26 Mei 2011

DISFUNGSI SISTOLIK VENTRIKEL KIRI ASIMTOMATIK (“ASYMPTOMATIC LEFT VENTRICULAR SYSTOLIC DYSFUNCTION”)


Sanggap Indra Sitompul, Budi S. Pikir

Gagal jantung telah dikenal sebagai masalah utama kesehatan masyarakat dan insidennya meningkat tajam pada negara-negara di seluruh dunia termasuk negara maju.

Prevalensi keseluruhan gagal jantung yang dikenali secara klinik kira-kira mencapai 3-20 kasus /1000 populasi, dan meningkat diatas seratus pada umur 65 tahun.

Secara luas telah diterima bahwa individu yang berkembang menjadi gagal jantung yang jelas (overt), sebelumnya mengalami fase disfungsi sistolik ventrikel kiri (LVSD) asimtomatik. Individu pada tingkat awal LVSD sebagian disebabkan mekanisme kompensasi yang melibatkan sistem saraf autonomik, neurohormon, dan perubahan pada struktur dan fungsi jantung.

Berdasarkan survei besar di Britania (Galsgow dan Midland Barat) dengan menggunakan ekokardiografi tahun 1990, didapatkan prevalensi gangguan kontraksi ventrikel kiri sebesar 2,9 %, di Midland Barat mencapai 1,8 % pada subyek diatas 45 tahun, sedangkan prevalensi disfungsi ventrikel kiri asimtomatik pada pria usia antara 45- 54 tahun mencapai tiga kali lebih tinggi dari pada simtomatik.

Kemajuan belakangan ini membuat pengenalan awal gagal jantung meningkat, seperti pengobatan terbaru untuk memperbaiki gejala maupun mutu hidup, mengurangi laju masuk rumah sakit, memperlambat tingkat keparahan penyakit, dan memperbaiki kelangsungan hidup.

Topik ini sangat menarik dibicarakan antara lain karena berdasarkan banyak penelitian menunjukkan lebih dari 50 persen penderita mengalami LVSD tanpa gagal jantung kongestif, sehingga pengenalan penderita-penderita tersebut dapat mengurangi insiden gagal jantung kongestif. Tulisan berikut menampilkan definisi, prevalensi, etiologi, patofisiologi, diagnosis, pengobatan dan prognosis.

Naskah lengkap disini


03 Mei 2011

JADWAL JAGA MEI 2011

HIPERTENSI PADA KEHAMILAN


<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE Dhani Tri Wahyu Nugroho, Dyah Priyatini

Hipertensi merupakan masalah medis yang sering ditemukan pada kehamilan. Prevalensi hipertensi berkisar 10-15% dari seluruh kehamilan di negara maju dan merupakan penyebab penting mortalitas dan morbiditas ibu dan janin.(1) Saat ini penyebab kematian maternal tertinggi antara lain disebabkan oleh hipertensi (16%), perdarahan (13%), abortus (8%), dan sepsis (2%).(2) Ibu hamil dengan hipertensi berpotensi mengalami komplikasi fatal antara lain disseminated intravascular coagulation (DIC), perdarahan otak, gangguan fungsi hati dan gagal ginjal akut. Sedangkan pada janin akan berakibat pertumbuhan janin terhambat, prematuritas, dan mortalitas perinatal. (3)

Klasifikasi Hipertensi pada kehamilan mulai berkembang sejak tahun 1940 oleh American Commitee on Maternal Welfare, yang selanjutnya mengalami banyak perubahan. Klasifikasi NHBPEP tahun 2000 sampai saat ini masih banyak dipakai. Tekanan darah 140/90 mmHg digunakan untuk menentukan diagnosis. (4) Sampai saat ini belum ada batasan yang jelas mengenai target penurunan tekanan darah hipertensi pada kehamilan. Penggunaan obat pada kehamilan menjadi suatu perhatian khusus dikarenakan efek samping yang sering terjadi pada janin. Pemberian obat hipertensi pada hipertensi ringan dan sedang masih menjadi perdebatan karena tidak berpengaruh terhadap tingkat mortalitas perinatal.

Naskah selengkapnya disini

Paten Foramen Ovale : perlu ditutup atau tidak


<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Depri Sumantha, Agus Subagjo

Paten foramen ovale (PFO) merupakan kelainan anatomi yang banyak ditemukan pada populasi umum. Struktur PFO berbentuk sebuah terowongan yang terjadi karena tidak menyatunya septum primum dan septum sekundum interatrium. Panjang terowongan PFO bervariasi antara 3 mm sampai 24 mm dengan ratat rata 9 mm. Prevalensi PFO pada satu bulan setelah bayi lahir sekitar 70 %, seiring dengan waktu PFO akan menutup dikarenakan tekanan di atrium kiri lebih tinggi dari tekanan di atrium kanan. Pada usia dewasa PFO menetap dengan prevalensi 25 – 30 % sedangkan pada penderita stroke yang berusia kurang dari 55 tahun dan tanpa faktor resiko lain prevalensinya lebih tinggi sekitar 40 – 54 % 1.

PFO merupakan faktor resiko terjadinya beberapa sindroma klinis yang disebabkan paradoxical embolism diantaranya stroke iskemik, infark miokard, sindroma dekompresi pada penyelam, emboli paru, migrain dengan aura dan platypnoea orthodeoxic2. Ekhokardiografi berperanan penting tidak hanya sebagai alat diagnosis PFO namun juga untuk monitoring saat tindakan dan paska tindakan percutaneous transcatheter PFO closure. Ukuran diameter PFO yang terlihat dengan ekhokardiografi transesofagus berhubungan erat dengan peningkatan resiko berulangnya stroke demikian juga bila terdapat residual PFO paska penutupan defek maka resiko rekurensi dari stroke meningkat 3.

Penatalaksanaan PFO meliputi terapi farmakologi, penutupan defek dengan menggunakan transcatheter percutaneus closure device, maupun pembedahan. Pemilihan terapi terhadap PFO masih menjadi pembahasan yang panjang, banyak penelitian dilakukan untuk menjawab pertanyaan ini. Penutupan bukan tanpa resiko, terjadinya komplikasi utama seperti kematian, perdarahan, tamponade jantung dan emboli paru yang fatal terjadi pada 1.5 %, dan komplikasi minor berupa aritmia atrium, emboli dari closure device, trombus dari closure device serta terbentuknya fistula atrioventrikuler mencapai 7.9 % 3,4. Kebanyakan karya ilmiah hanya mempertimbangkan penatalaksanan PFO berdasarkan variable kualitatif. Hanya sedikit yang mempertimbangkan implikasi fungsional yang diterjadi dihubungkan dengan anatomi dari PFO. Tinjauan kepustakaan ini mencoba untuk membahas apakah PFO perlu ditutup atau tidak bardasarkan beberapa studi terbaru dan evaluasi antomi PFO dengan menimbang resiko dan keuntungannya 5.

Naskah selengkapnya disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini