17 Mei 2009
selamat berjuang!!
-Adik2yangselalu mendoakan-
10 Mei 2009
28 April 2009
23 April 2009
Duka Cita
21 April 2009
TERAPI TROMBOLITIK PADA EMBOLI PARU
Riana Handayani
Venous Thromboembolism (VTE), meliputi Deep Vein Thrombosis (DVT) and Pulmonary Embolism (PE) adalah penyakit vaskular tersering setelah penyakit jantung koroner dan stroke. Diperkirakan 45.000 pasien di Kanada terdiagnosa sebagai DVT.
Sekitar 90% PE berasal dari trombus pada ekstremitas bawah. Suatu studi prospektif menemukan bahwa 82% pasien yang secara angiografi terbukti PE, secara venografi juga terbukti DVT. Pasien-pasien dengan PE masif, DVT hanya teridentifikasi secara klinis hanya 50%. Kira-kira 45% DVT pada vena iliaca dan vena femoralis dapat lepas menjadi emboli hingga ke arteri pulmonalis.
PE mempunyai potensi komplikasi yang fatal dan serius akibat pembentukan trombus didalam sirkulasi vena. Sampai saat ini PE tetap memberikan tantangan tersendiri kepada klinisi baik dalam hal profilaxis, modalitas diagnostik maupun pemilihan terapi. Di Amerika Serikat diperkirakan PE terjadi pada lebih dari 600.000 pasien dan menyumbang 50.000-200.000 kematian. Bahkan diperkirakan PE menyumbang 15% kematian di rumah sakit.
Diagnosis PE sering terlewati oleh karena gejala-gejala dan tanda-tandanya yang tidak khas. Sebagian besar pasien akan meninggal dan sepertiga diantara pasien yang masih bertahan hidup akan meninggal oleh karena episode serangan berikutnya. Pada penderita yang masih bertahan hidup emboli ulangan dan kematian dapat dicegah dengan diagnosa dan terapi yang tepat. Penanganan penderita PE memerlukan pendekatan diagnostik yang sistematik dengan memperhatikan faktor-faktor resiko sehingga terapi preventif dapat diberikan.
Studi-studi membandingkan terapi trombolitik dengan heparin pada PE masif dan submassif menunjukkan resolusi bekuan yang cepat pada pasien yang mendapat terapi trombolitik. Penurunan angka mortalitas terjadi pada pasien PE masif seiring dengan terapi trombolitik terjadi perbaikan hemodinamik, fungsi ventrikel kanan, perfusi pulmonar dan penurunan resiko rekurensi tromboemboli.
Berikut adalah kasus seorang wanita dengan PE dan DVT yang mendapat terapi trombolitik.
15 Maret 2009
Catatan Singkat dari Singapore Interventional Live 2009
Saskia DH
Pengalaman saya dalam mengikuti YIA di Singapore Interventional Live 2009 ini ada beberapa hal yang ingin saya sharing pada teman-teman.
Yang pertama jangan takut mengirimkan karya di ajang international, walaupun saya ga pede buat bikin research, karena itu research saya satu-satunya ya karya akhir ini.
Yang kedua YIA tidak hanya di Asmiha, tapi ada event lain, selain SingLive yang khusus buat cardiology intervention juga ada APCC untuk level Asia, EuroCongress, etc. Yang- thank's God buat penemu internet- saat ini amat mudah diattachkan lwt website dan imel.
Kemudian, lebih spesifik pada SingLive, sistem penjurian disana berlangsung 2 tahap, jadi dari 22 peserta disaring jadi 5 peserta sebagai finalis, Alhamdulillah masuk juga, walaupun pada akhirnya gak dapat prize nya karena yang dapat no 1-3 aja, hiks.
Tetapi, ternyata, di ajang international seperti itu ada foundation yang mencari kandidat untuk beasiswa. Karena foundation seperti itu tidak mempublikasikan diri lewat internet atau advertising.
Jadi, buat temen-temen para fellowship hunter, memang kesempatan itu harus dicari....
Selain itu ikut konggres di SingLive membuat saya semakin nambah wawasan tentang berbagai hal baru tidak hanya di bidang intervensi yang menjadi pokok bahasan kongres ini, tetapi juga non-invasif, selain workshop msct, saya ikut workshop echo 3 Dimensi.
Take home message saya, ilmu kardiologi itu sangat berkembang dan merupakan cabang ilmu kedokteran yang sangat disegani, jangan takut buat mencoba, work hard play hard, jangan mudah berpuas diri.
Wassalam,
03 Maret 2009
TAKIARITMIA: Apa dan Bagaimana Penatalaksanaannya

Lebih dari 400 tahun yang lalu, Paracelcus menulis “obat dapat menjadi suatu bahan yang tersembunyi, suatu racun, atau obat tergantung bagaimana menggunakannya dan dosis yang diberikan”. Pernyataan ini terutama berguna untuk obat antiaritmia, yang secara potensial menjadi efek toksik saat diresepkan pada pasien yang tidak tepat. Kebanyakan obat anti aritmia memiliki indeks terapeutik yang relatif sempit. Jika diresepkan dengan bijaksana, maka memiliki peran kunci untuk memperpanjang hidup penderita. Namun, jika obat atau regimen dosis tidak tepat, mengakibatkan efek pro aritmia sampai aritmia. Jadi, penggunaan optimal dari terapi obat anti aritmia tergantung dari pemahaman farmakodinamik dan farmakokinetik dari tiap obat anti aritmia.
Insiden aritmia bervariasi, tergantung jenis aritmianya. Menurut pedoman ACC/AHA/ESC tahun 2003, perkiraan prevalensi takikardia supraventrikular paroksismal (Paroxysmal Supraventricular Tachycardy / PSVT) dalam 3,5% sampel rekam medis Marshfield (Wisconsin) Epidemiologic Study Area (MESA) adalah 2,25 per 1000. Insiden PSVT pada survei ini 35 per 100 ribu orang per tahun. Umur berpengaruh terhadap kejadian takikardia supraventrikular (Supraventricular Tachycardy / SVT), rerata umur saat kejadian PSVT pada kohort MESA adalah 57 tahun. Jenis kelamin memiliki peranan pada epidemiologi SVT. Wanita pada populasi MESA memiliki resiko relatif dua kali lipat dibanding pria. Studi epidemiologi pada pasien GA pada individu di Marshfield Clinic didominasi kulit putih, pedalaman di tengah Wisconsin, dimana sekitar 60 % kasus terjadi GA pertama kali berkaitan dengan pemicunya, seperti bedah mayor, pneumonia, atau infark miokard akut / IMA). Sisanya, GA berhubungan dengan kondisi komorbid kronik seperti gagal jantung, hipertensi, dan penyakit paru kronik. Sementara itu, aritmia ventrikular tetap menjadi penyebab utama kematian yang berhubungan dengan sindroma koroner iskemi akut, yang diperkirakan terjadi 350 ribu kematian kardiak mendadak pertahun.
Untuk itu, pada makalah ini kami membahas macam mekanisme aritmia dan obat yang tepat untuk setiap jenis takiaritmia.


