17 Mei 2009

selamat berjuang!!

Buat kakak2 tercinta, dr.tutik, dr.rio, dr. aan, dan dr.zaenal.. selamat menghadapi ujian board 20 mei ini ya.. semoga lancar dan sukses ujiannya, tanpa mengalami hambatan sedikitpun. Kami akan selalu mendoakan kakak2.. Selamat berjuang! Bismillah..

-Adik2yangselalu mendoakan-

28 April 2009

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun.Segenap pengurus dan anggota Paguyuban Asisten Kardiologi Unair (PASKAL) mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya orangtua dari Yth. dr. Agus Subagyo, SpJP(K) FIHA pada hari Sabtu 25 April 2009. Semoga Almarhum khusnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan. Amin ya robbal alamin

23 April 2009

Duka Cita

Kami atas nama seluruh PPDS kardiologi turut berduka cita atas berpulangnya ke rahmatullah ayahanda dr.Andrianto, SpJP tadi malam, pukul 20.20, di Tulung Agung. Semoga Allah mengampuni dosanya, dan menerima semua amal ibadahnya, serta seluruh keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Amin.
PASKAL

21 April 2009

TERAPI TROMBOLITIK PADA EMBOLI PARU

Riana Handayani, Iswanto Pratanu

Venous Thromboembolism (VTE), meliputi Deep Vein Thrombosis (DVT) and Pulmonary Embolism (PE) adalah penyakit vaskular tersering setelah penyakit jantung koroner dan stroke. Diperkirakan 45.000 pasien di Kanada terdiagnosa sebagai DVT. Lima puluh hingga 60% pasien DVT akan mengalami PE dimana setengahnya asimtomatik. Hampir 70% pasien dengan gejala PE akan ditemukan DVT jika dilakukan evaluasi. Faktor-faktor resiko terjadinya PE ádalah juga faktor resiko DVT yaitu stasis vena, perlukaan pada dinding pembuluh darah, dan hiperkoaguabilitas.

Sekitar 90% PE berasal dari trombus pada ekstremitas bawah. Suatu studi prospektif menemukan bahwa 82% pasien yang secara angiografi terbukti PE, secara venografi juga terbukti DVT. Pasien-pasien dengan PE masif, DVT hanya teridentifikasi secara klinis hanya 50%. Kira-kira 45% DVT pada vena iliaca dan vena femoralis dapat lepas menjadi emboli hingga ke arteri pulmonalis.

PE mempunyai potensi komplikasi yang fatal dan serius akibat pembentukan trombus didalam sirkulasi vena. Sampai saat ini PE tetap memberikan tantangan tersendiri kepada klinisi baik dalam hal profilaxis, modalitas diagnostik maupun pemilihan terapi. Di Amerika Serikat diperkirakan PE terjadi pada lebih dari 600.000 pasien dan menyumbang 50.000-200.000 kematian. Bahkan diperkirakan PE menyumbang 15% kematian di rumah sakit.

Diagnosis PE sering terlewati oleh karena gejala-gejala dan tanda-tandanya yang tidak khas. Sebagian besar pasien akan meninggal dan sepertiga diantara pasien yang masih bertahan hidup akan meninggal oleh karena episode serangan berikutnya. Pada penderita yang masih bertahan hidup emboli ulangan dan kematian dapat dicegah dengan diagnosa dan terapi yang tepat. Penanganan penderita PE memerlukan pendekatan diagnostik yang sistematik dengan memperhatikan faktor-faktor resiko sehingga terapi preventif dapat diberikan.

Studi-studi membandingkan terapi trombolitik dengan heparin pada PE masif dan submassif menunjukkan resolusi bekuan yang cepat pada pasien yang mendapat terapi trombolitik. Penurunan angka mortalitas terjadi pada pasien PE masif seiring dengan terapi trombolitik terjadi perbaikan hemodinamik, fungsi ventrikel kanan, perfusi pulmonar dan penurunan resiko rekurensi tromboemboli.

Berikut adalah kasus seorang wanita dengan PE dan DVT yang mendapat terapi trombolitik.

Naskah lengkap dapat dibaca disini.

15 Maret 2009

Catatan Singkat dari Singapore Interventional Live 2009

Saskia DH

Pengalaman saya dalam mengikuti YIA di Singapore Interventional Live 2009 ini ada beberapa hal yang ingin saya sharing pada teman-teman.


Yang pertama jangan takut mengirimkan karya di ajang international, walaupun saya ga pede buat bikin research, karena itu research saya satu-satunya ya karya akhir ini.

Yang kedua YIA tidak hanya di Asmiha, tapi ada event lain, selain SingLive yang khusus buat cardiology intervention juga ada APCC untuk level Asia, EuroCongress, etc. Yang- thank's God buat penemu internet- saat ini amat mudah diattachkan lwt website dan imel.

Kemudian, lebih spesifik pada SingLive, sistem penjurian disana berlangsung 2 tahap, jadi dari 22 peserta disaring jadi 5 peserta sebagai finalis, Alhamdulillah masuk juga, walaupun pada akhirnya gak dapat prize nya karena yang dapat no 1-3 aja, hiks.

Tetapi, ternyata, di ajang international seperti itu ada foundation yang mencari kandidat untuk beasiswa. Karena foundation seperti itu tidak mempublikasikan diri lewat internet atau advertising. 

Jadi, buat temen-temen para fellowship hunter, memang kesempatan itu harus dicari....

Selain itu ikut konggres di SingLive membuat saya semakin nambah wawasan tentang berbagai hal baru tidak hanya di bidang intervensi yang menjadi pokok bahasan kongres ini, tetapi juga non-invasif, selain workshop msct, saya ikut workshop echo 3 Dimensi.

Take home message saya, ilmu kardiologi itu sangat berkembang dan merupakan cabang ilmu kedokteran yang sangat disegani, jangan takut buat mencoba, work hard play hard, jangan mudah berpuas diri.

Wassalam,

03 Maret 2009

TAKIARITMIA: Apa dan Bagaimana Penatalaksanaannya


Yusra Pintaningrum

Budi Baktijasa


Obat antiaritmia merupakan kelompok produk farmasi yang digunakan untuk melambatkan irama yang terlalu cepat dan mengkoreksi denyut jantung tidak teratur (aritmia kardiak), seperti fibrilasi atrial (atrial fibrillation / AF), gelepar atrial / GA (atrial flutter), takikardia ventrikuler (ventricular tachycardy / VT), dan fibrilasi ventrikuler (ventricular fibrillation / VF) Obat antiaritmia dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama dalam pencegahan kematian mendadak pada penyakit jantung struktural.
Lebih dari 400 tahun yang lalu, Paracelcus menulis “obat dapat menjadi suatu bahan yang tersembunyi, suatu racun, atau obat tergantung bagaimana menggunakannya dan dosis yang diberikan”. Pernyataan ini terutama berguna untuk obat antiaritmia, yang secara potensial menjadi efek toksik saat diresepkan pada pasien yang tidak tepat. Kebanyakan obat anti aritmia memiliki indeks terapeutik yang relatif sempit. Jika diresepkan dengan bijaksana, maka memiliki peran kunci untuk memperpanjang hidup penderita. Namun, jika obat atau regimen dosis tidak tepat, mengakibatkan efek pro aritmia sampai aritmia. Jadi, penggunaan optimal dari terapi obat anti aritmia tergantung dari pemahaman farmakodinamik dan farmakokinetik dari tiap obat anti aritmia.
Insiden aritmia bervariasi, tergantung jenis aritmianya. Menurut pedoman ACC/AHA/ESC tahun 2003, perkiraan prevalensi takikardia supraventrikular paroksismal (Paroxysmal Supraventricular Tachycardy / PSVT) dalam 3,5% sampel rekam medis Marshfield (Wisconsin) Epidemiologic Study Area (MESA) adalah 2,25 per 1000. Insiden PSVT pada survei ini 35 per 100 ribu orang per tahun. Umur berpengaruh terhadap kejadian takikardia supraventrikular (Supraventricular Tachycardy / SVT), rerata umur saat kejadian PSVT pada kohort MESA adalah 57 tahun. Jenis kelamin memiliki peranan pada epidemiologi SVT. Wanita pada populasi MESA memiliki resiko relatif dua kali lipat dibanding pria. Studi epidemiologi pada pasien GA pada individu di Marshfield Clinic didominasi kulit putih, pedalaman di tengah Wisconsin, dimana sekitar 60 % kasus terjadi GA pertama kali berkaitan dengan pemicunya, seperti bedah mayor, pneumonia, atau infark miokard akut / IMA). Sisanya, GA berhubungan dengan kondisi komorbid kronik seperti gagal jantung, hipertensi, dan penyakit paru kronik. Sementara itu, aritmia ventrikular tetap menjadi penyebab utama kematian yang berhubungan dengan sindroma koroner iskemi akut, yang diperkirakan terjadi 350 ribu kematian kardiak mendadak pertahun.
Untuk itu, pada makalah ini kami membahas macam mekanisme aritmia dan obat yang tepat untuk setiap jenis takiaritmia.


Naskah lengkap dapat dibaca disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini