08 Juni 2009

SEORANG PRIA MUDA DENGAN EFUSI PERIKARDIUM MASIF: PROBLEM DIAGNOSTIK

Musnidarti, Budi Baktijasa

Efusi perikardium adalah penumpukan cairan abnormal dalam ruang perikardium. Ini dapat disebabkan oleh berbagai kelainan sistemik, lokal atau idiopatik. Cairan tersebut dapat berupa transudat, eksudat, pioperikardium, atau hemoperikardium. Efusi perikardium bisa akut atau kronis, dan lamanya perkembangan memiliki pengaruh besar terhadap gejala-gejala pasien (Strimel W, 2006).
Efusi perikardium pada pasien dengan kanker lanjut merupakan hal yang biasa namun bila terjadi akan menjadi masalah berat. Berdasarkan pemeriksaan post mortem, metastase kardiak terjadi pada 2,3% - 18,3% subyek dengan keganasan. Perikardium adalah tempat paling sering terjadi metastase kardiak ( 69,4 %). Keganasan paling sering melibatkan perikardium adalah karsinoma paru, payudara, limfoma, ovarium, lambung , prostat. Medary dkk melaporkan insiden lebih tinggi terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan rasio 7:3. Efusi terkait keganasan dapat menyerang semua umur. (Venugopalan P , 2006; Bussani, 2007). 

Naskah lengkap disini

RESISTENSI INSULIN PADA GAGAL JANTUNG

Nyimas Maida Shofa, Djoko Soemantri

Pada beberapa tahun terakhir, resistensi insulin dikenal sebagai faktor utama resiko penyakit kardiovaskuler dan telah mencapai tingkat epidemi di negara Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Sebagai tambahan, IR berkaitan dengan faktor-faktor lain seperti hipertensi, dislipidemia, dan gangguan metabolik yang berperan sebagai faktor resiko cardiovaskuler pada penderita dengan IR (Walcher, 2004).
Seseorang dengan kelompok faktor resiko seperti obesitas, impaired fasting glucose (IFG), hipertensi, HDL rendah, dan TG yang tinggi dikenali sebagai sindrom metabolik yang merupakan dasar dari resistensi insulin. Sindroma metabolik dan resistensi insulin merupakan faktor-faktor yang selanjutnya akan berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskuler (Meigs, 2007).
Meskipun antagonis neurohumoral telah berhasil menurunkan angka mortalitas dan morbiditas gagal jantung, namun angka kecacatan dan tingkat kematian pada penderita tersebut masih tinggi. Walaupun abnormalitas dari metabolisme otot jantung berhubungan dengan gagal jantung, dari data terbaru menyatakan bahwa gagal jantung dapat menimbulkan perubahan metabolik seperti resistensi insulin yang sebagian besar disebabkan oleh aktivasi neurohumoral (Ashrafian, 2007). 
Naskah lengkap disini

17 Mei 2009

selamat berjuang!!

Buat kakak2 tercinta, dr.tutik, dr.rio, dr. aan, dan dr.zaenal.. selamat menghadapi ujian board 20 mei ini ya.. semoga lancar dan sukses ujiannya, tanpa mengalami hambatan sedikitpun. Kami akan selalu mendoakan kakak2.. Selamat berjuang! Bismillah..

-Adik2yangselalu mendoakan-

28 April 2009

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun.Segenap pengurus dan anggota Paguyuban Asisten Kardiologi Unair (PASKAL) mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya orangtua dari Yth. dr. Agus Subagyo, SpJP(K) FIHA pada hari Sabtu 25 April 2009. Semoga Almarhum khusnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan. Amin ya robbal alamin

23 April 2009

Duka Cita

Kami atas nama seluruh PPDS kardiologi turut berduka cita atas berpulangnya ke rahmatullah ayahanda dr.Andrianto, SpJP tadi malam, pukul 20.20, di Tulung Agung. Semoga Allah mengampuni dosanya, dan menerima semua amal ibadahnya, serta seluruh keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Amin.
PASKAL

21 April 2009

TERAPI TROMBOLITIK PADA EMBOLI PARU

Riana Handayani, Iswanto Pratanu

Venous Thromboembolism (VTE), meliputi Deep Vein Thrombosis (DVT) and Pulmonary Embolism (PE) adalah penyakit vaskular tersering setelah penyakit jantung koroner dan stroke. Diperkirakan 45.000 pasien di Kanada terdiagnosa sebagai DVT. Lima puluh hingga 60% pasien DVT akan mengalami PE dimana setengahnya asimtomatik. Hampir 70% pasien dengan gejala PE akan ditemukan DVT jika dilakukan evaluasi. Faktor-faktor resiko terjadinya PE ádalah juga faktor resiko DVT yaitu stasis vena, perlukaan pada dinding pembuluh darah, dan hiperkoaguabilitas.

Sekitar 90% PE berasal dari trombus pada ekstremitas bawah. Suatu studi prospektif menemukan bahwa 82% pasien yang secara angiografi terbukti PE, secara venografi juga terbukti DVT. Pasien-pasien dengan PE masif, DVT hanya teridentifikasi secara klinis hanya 50%. Kira-kira 45% DVT pada vena iliaca dan vena femoralis dapat lepas menjadi emboli hingga ke arteri pulmonalis.

PE mempunyai potensi komplikasi yang fatal dan serius akibat pembentukan trombus didalam sirkulasi vena. Sampai saat ini PE tetap memberikan tantangan tersendiri kepada klinisi baik dalam hal profilaxis, modalitas diagnostik maupun pemilihan terapi. Di Amerika Serikat diperkirakan PE terjadi pada lebih dari 600.000 pasien dan menyumbang 50.000-200.000 kematian. Bahkan diperkirakan PE menyumbang 15% kematian di rumah sakit.

Diagnosis PE sering terlewati oleh karena gejala-gejala dan tanda-tandanya yang tidak khas. Sebagian besar pasien akan meninggal dan sepertiga diantara pasien yang masih bertahan hidup akan meninggal oleh karena episode serangan berikutnya. Pada penderita yang masih bertahan hidup emboli ulangan dan kematian dapat dicegah dengan diagnosa dan terapi yang tepat. Penanganan penderita PE memerlukan pendekatan diagnostik yang sistematik dengan memperhatikan faktor-faktor resiko sehingga terapi preventif dapat diberikan.

Studi-studi membandingkan terapi trombolitik dengan heparin pada PE masif dan submassif menunjukkan resolusi bekuan yang cepat pada pasien yang mendapat terapi trombolitik. Penurunan angka mortalitas terjadi pada pasien PE masif seiring dengan terapi trombolitik terjadi perbaikan hemodinamik, fungsi ventrikel kanan, perfusi pulmonar dan penurunan resiko rekurensi tromboemboli.

Berikut adalah kasus seorang wanita dengan PE dan DVT yang mendapat terapi trombolitik.

Naskah lengkap dapat dibaca disini.

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini