11 November 2009

GAMBARAN EKOKARDIOGRAFI PADA PENYAKIT JANTUNG KARENA RADIASI

Riana Handayani, Budi Susetyo Juwono

Terapi radiasi merupakan salah satu pilihan terapi kanker disamping kemoterapi dan pembedahan. Ketika lapangan radiasi mencakup jantung, dapat terjadi efek yang tidak menguntungkan pada organ ini. Pendapat ini tidak dipercaya, sampai tahun 1960-an orang tetap berpendapat bahwa jantung adalah organ yang radioresisten. Tahun 1980-an issu tentang eksposure radiasi menyebabkan penyakit jantung koroner masih kontroversial. Baru pada tahun 1990-an jelas bahwa resiko kardiovaskular karena radiasi mediastinal mengurangi angka survival penderita kanker.1,2
Efek radiasi pada jantung dapat bermanifestasi pada perikard, miokard, katup-katup, arteri koroner dan sistem konduksi jantung. Ekokardiografi adalah salah satu alat penyaring noninvasif pada pasien-pasien kanker yang mendapat terapi radiasi disamping pemeriksaan fisik dan elektrokardiografi. Alat ini penting untuk mengevaluasi fungsi sistolik dan diastolik ventrikel kiri, perikard, kerusakan miokard dan katub jantung. Ekokardiografi doppler juga dapat digunakan untuk menilai status hemodinamik pada pasien yang mendapat terapi radiasi. Pemeriksaan ekokardiografi seharusnya dilakukan secara rutin pada awal terapi radiasi dilakukan dan untuk reevaluasi

Naskah lengkap disini

10 November 2009

Penggunaan Drug Eluting Balloon (DEB) pada seorang penderita dengan Instent Restenosis pada stent Bare Metal Stent (BMS) di cabang LAD

Donny Hendrasto,Yudi Her Oktaviono

Instent restenosis (ISR) merupakan suatu keadaan yang dapat terjadi pada penderita dengan tindakan setelah Percutaneus Coronary Transluminal Angioplasty (PTCA) khususnya dalam pemasangan Bare Metal Stent (BMS), yaitu disebabkan oleh hyperplasia dari lapisan neo intimal sehingga menyebabkan penyempitan pada lumen yang telah terpasang stent tersebut.2,11,12
Insidens dari Instent restenosis(ISR) setelah PTCA berkisar 5% hingga 35% pada pemasangan BMS, maka dengan demikian perlu adanya upaya untuk mengatasi kondisi tersebut yang diantaranya sekarang sedang berkembang adalah penggunaan Drug Eluting Balloon(DEB) atau Drug Coated Balloon.2,11
Adapun dasar pemikiran bahwa konsentrasi efektif suatu bahan antiproliferatif dalam jangka pendek dapat menghambat proliferasi neointimal sehingga mencegah timbulnya in-stent restenosis,maka walaupun dalam era Drug Eluting Stent (DES)seperti sekarang ini,tampaknya masih diperlukan alternatif lain untuk penanganan ISR yaitu dengan DEB.2,11
Naskah lengkap disini

DEEP VEIN TROMBOSIS PADA SEORANG PASIEN DIABETES MELLITUS

R. Mohammad Budiarto, Djoko Santoso

Deep Vein Trombosis (DVT) merupakan pembentukan bekuan darah pada lumen pembuluh darah vena dalam (deep vein) yang diikuti atau diakibatkan suatu reaksi inflamasi pada dinding pembuluh darah dan jaringan perivena. Berdasarkan data di Amerika DVT merupakan penyebab kematian terbanyak, sekitar 200 ribu orang yang meninggal akibat trombosis vena atau arteri (Lopez , 2004).
 Virchow menyebutkan bahwa patogenesis DVT terutama disebabkan adanya abnormalitas dinding pembuluh darah, stasis aliran darah vena dan perubahan-perubahan pada elemen darah baik yang terlarut maupun yang berbentuk. Yang dimaksud dengan yang terakhir adalah adanya kelainan jumlah pada protein-ptotein darah, eritrosit, lekosit dan trombosit baik secara kongenital maupun didapat. Selain itu bisa disebabkan oleh keganasan, pemakaian kontrasepsi oral, efek hormonal, infeksi, pembedahan dan inaktivitas (Bates, 2004).
DVT biasanya terjadi didaerah sinus pembuluh darah pada otot ekstremitas bawah tetapi adakalanya terjadi pada pembuluh darah daerah proksimal, biasanya sebagai respon akibat trauma maupun tindakan operasi. Oleh sebab itu diperlukan penanganan yang optimal pada penderita DVT agar tidak terjadi komplikasi seperti perluasan trombus, emboli paru, trombosis berulang serta sindroma paska-phlebitis yang dapat meningkatkan morbiditas (Schreiber, 2008).
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit yang menyebabkan terjadinya gangguan pada tingkat makrovaskuler dan mikrovaskuler, dengan hasil akhir berupa gangguan homeostasis. Dalam keadaan normal didalam pembuluh darah substansi aktif mengalami sintesis dan beredar untuk menjaga homeostasis pembuluh darah, aliran darah dan memberi nutrisi sehingga terjadinya trombosis dapat dicegah (Luscher, 2003; Creager, 2004).

Naskah dapat dibaca disini

04 November 2009

PCI PADA PENDERITA UNSTABLE ANGINA OLEH KARENA MYOCARDIAL BRIDGING

Sri Hastuti, Iswanto Pratanu

Myocardial bridging (MB) adalah suatu anomali arteri koroner yang ditandai adanya arteri koroner epikardial yang masuk kedalam miokard. Fenomena ini pertama kali ditemukan oleh Reyman pada tahun 1737 dan pertama kali digambarkan secara angiografi oleh Portman dan Iwig pada tahun 1961. Prevalensi MB yang ditemukan dengan otopsi bervariasi dari 5.4%-85.7% dan secara angiografi berkisar 0.5%-16%. Insiden anomali ini lebih tinggi wanita dibandingkan pria.

MB sering ditemukan di mid arteri desenden anterior kiri (LAD), dan secara angiografi tampak suatu penekanan arteri koroner epikardial. Gangguan yang spesifik dapat dilihat dengan angiografi koroner yang bersifat kuantitatif, studi doppler intrakoroner, dan ultrasonografi intravaskuler. Derajad obstruksi MB bergantung pada lokasi, ketebalan, panjang MB dan derajad kontraktilitas jantung. MB sebenarnya suatu kondisi benigna, namun kadang-kadang memiliki komplikasi iskemia, sindrom koroner akut, spasme koroner, ruptur septal ventrikel, aritmia (meliputi supra ventricular tachycardia dan ventricular tachicardia), AV blok yang dicetuskan oleh exercise, stunning, disfungsi ventrikel yang bersifat sementara, kematian dini setelah transplantasi jantung, dan kematian mendadak.
Naskah lengkap disini

Inferior Vena Cava Filter on Lower Limb Deep Vein Thrombosis

Andrianto, Yudi Her Oktaviono
Trombosis vena profunda dan emboli pulmonal merupakan dua hal dari satu rangkaian proses penyakit. Trombosis vena profunda tungkai bawah menjadi penyebab lebih dari 90% kasus emboli pulmonal, namun hanya sekitar 10% kasus tersebut tampak secara klinis. Komplikasi paling berat dari penyakit tromboemboli vena adalah emboli pulmonal.
Trombosis vena profunda paling sering terjadi pada tungkai bawah dan dapat pula timbul hanya pada vena tungkai atas atau pelvis. Culprit veins yang sering terlibat pada kejadian emboli pulmonal yang bermakna secara klinis adalah cephalad sampai dengan trifurkasio.
Emboli pulmonal akan menimbulkan simtom bila emboli berukuran besar, dan bila emboli berdiameter lebih dari 7,5 mm dapat berakibat fatal. Perawatan di rumah sakit diperlukan bagi pasien dengan emboli pulmonal. Di Amerika Serikat, setiap tahun didiagnosis 355.000 pasien dengan emboli pulmonal, dan sebanyak 240.000 diantaranya meninggal. Emboli pulmonal menempati urutan ketiga sebagai penyebab tersering kematian mendadak penyakit kardiovaskular.
Naskah lengkap disini

29 Oktober 2009

Peranan Ekhokardiografi Pada Diagnosis dan Penatalaksanaan Infektif Endokarditis

Novita
Agus Subagjo

Infektif Endokarditis selalu berpotensial menjadi penyakit yang mengancam jiwa dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Walaupun terjadi kemajuan yang signifikan pada tehnik pemeriksaan mikrobiologi, terapi antibiotik dan pembedahan, angka mortalitas rata-rata masih tinggi berkisar 20% - 25%. Untuk memperbaiki outcome lebih lanjut diperlukan diagnosis yang akurat, mendeteksi komplikasi lebih awal dan memulai pengobatan efektif.
Evaluasi Infektif Endokarditis mengalami kemajuan dramatis dengan berkembangnya ekhokardiografi, yang merupakan tehnik utama untuk mendeteksi vegetasi dan komplikasi kardiak yang diakibatkan oleh endokarditis. Pendekatan kunci adalah Transesofageal ekhokardiografi (TEE), menghasilkan perbaikan yang signifikan pada resolusi visual struktur jantung. Saat ini ekhokardiografi sangat diperlukan dalam mendiagnosis dan penatalaksanaan pasien yang diduga atau diketahui menderita infektif endokarditis, seperti kriteria diagnosis endokarditis yang telah direvisi dengan memasukkan temuan ekhokardiografi sebagai kriteria mayor.
Naskah lengkap disini

11 Agustus 2009

Pengajian - Persiapan sebelum Ramadhan

Guys, ini ringkasan pengajian yang ditulis langsung saat pengajian dengan materi Alquran & puasa, persiapan sebelum puasa oleh Ust. Syaukani Ong

Puasa = menahan diri
barangsiapa yang berpegang teguh pada Allah (menolak larangan Allah) maka dia berpegang pada tali Allah..
kenapa kalau puasa walaupun lapar haus tapi tetap tidak minum - makan, karena adanya berkah, merasa bahagia..
Rahman = mendapat kasih sayang Allah..
almarhum = orang yang mendapat rahmat Allah, mendapat kasih sayang Allah, walaupun orang tersebut belum meninggal..
Allah yang menurunkan rahmat = Rahman..
Jenazah = mayit (arab) = bangkai (indonesia)
Al A'raf 96: seandainya penghuni negeri bertakwa kepada Allah --> tujuan puasa --> supaya bertakwa pada Allah..

Tujuan Ramadhan:
supaya ibadah meningkat.
Ibadah ? artinya: untuk mengabdi kepada-Nya. Di dalam islam tidak ada penyembahan. tapi pengabdian.
Allah tidak perlu disembah. tapi taat, sinonim Islam.. Yang mengabdi, ciri khasnya taat

Albaqarah 21: hai manusia, abdikan dirimu untuk berpuasa dan bertakwa..

supaya diberkahi Allah dalam puasa --> akhirkan sahur.

...
Ustd. Syaukani Ong ini terkadang menyisipkan kelucuan saat memberikan ceramah..
Beliau bertanya, apa bedanya orang yang sudah dikhitan dengan belum dikhitan..? bagaimana jika kita masuk ke dalam ka'bah, sholatnya menghadap kemana..?

... melanjutkan ceramah...
apakah iman? iman mengandung keyakinan, 6 rukun iman, diteguhkan dengan 5 rukun islam
apakah ihsan? = hasanah= ahsanah = terbaik (arab) = tidak cukup hanya percaya dan taat kepada Allah, tapi harus dibuktikan dengan kebaikan yang meliputi diri kita..

dengan berpuasa, kebaikan dari diri kita dirasakan pada orang lain.

orang yg berbuat ihsan:
1. berbuat kebaikan dengan siapa saja dan apa saja
termasuk dengan ibu, bapak, tetangga
menjelang ramadhan, harus mempraktekkan surat al a'raf 135 : peduli, memaafkan, tidak marah --> tidak perlu untuk memaafkan menunggu ramadhan..

2. berbuat baik terhadap orang yg berbuat baik kepada kita.
kalau kita pernah dibaikin oleh orang lain, dan dia membutuhkan orang itu, maka tolong orang tersebut.
3. berbuat baik pada orang yg berbahagia (walaupun kita tetap menahan diri)
tidak iri dengan kebahagiaan orang lain, sehingga meraih rahmat dan berkah.

4.berbuat baik pada orang yang menyakitinya..

Kita harus membuktikan keislaman dengan ihsan, berbuat baik dengan orang lain

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini