25 Agustus 2010

KOMPLIKASI KARDIAK PADA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS

Indrayani, Dyah Priyatini

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronik yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru karena terpapar oleh gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Penyebab utama PPOK adalah rokok, akan tetapi asma, polusi udara luar maupun rumah serta tempat kerja, faktor genetik dan infeksi juga mempunyai peranan yang sangat penting.

Manifestasi kardiak sering terjadi pada penderita PPOK, meliputi : Disfungsi ventrikel kanan (cor pulmonale), Penyakit jantung koroner dan aritmia. Hubungan antara PPOK dengan komplikasi yang terjadi pada kardiak belum sepenuhnya dimengerti. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor resiko yang sama dari kedua penyakit ini yaitu rokok dan sejumlah faktor yang menyebabkan stress yang meningkat pada sistem kardiovaskuler, meliputi pemakaian obat-obatan β agonis, hipoksemia, hiperventilasi yang dapat menimbulkan alkalosis respiratorik dan inflamasi. Akibat dari faktor-faktor ini, pada penderita PPOK akan terjadi inflamasi sistemik dan peningkatan stress oksidatif sistemik yang selanjutnya akan menyebabkan kerusakan endotel vaskuler.

Mengingat komplikasi kardiak yang terjadi pada pasien PPOK menyebabkan tingginya hospitalisasi dan mortalitas, maka kami mencoba membahas dalam tinjauan kepustakaan ini, dengan harapan dapat menambah pengetahuan dalam mengelola pasien dengan penyakit yang multipel.

Naskah selengkapnya disini

24 Agustus 2010

SHOLAT TARAWIH BERSAMA



Paskalers yang terhormat,

Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam-Jantung-Paru mengadakan sholat tarawih bersama dan ceramah agama, yang akan dilaksanakan pada :


Hari : Minggu, 29 Agustus 2010

Waktu : pukul 19.00 WIB
Tempat : Kediaman Prof. Dr. Rochmad Romdoni, SpPD, SpJP, FIHA

Jl. Dharmahusada Indah I/52 Surabaya

Penceramah : Ust. Abdul Aziz

Tema ceramah : Persiapan menjelang 10 hari terakhir Ramadhan
.

Informasi ini sekaligus undangan dan mohon untuk disampaikan ke teman-teman lainnya.


Don't miss it...

RADIATION EXPOSURE ISSUES IN CATHETERIZATION LABORATORY

Ika Krisnawati, Yudi Her Oktaviono

Selama lebih dari 50 tahun, laboratorium kateterisasi jantung telah berkembang pesat dari laboratorium penelitian menjadi laboratorium diagnostik dan terapi intervensi. Dengan berkembangnya teknologi serta ketrampilan operator, laboratorium kateterisasi juga mejadi laboratorium diagnostiK dan terapi sistim organ selain jantung dan pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan frekuensi penggunaan fluoroskopi. Selain itu juga terjadi peningkatan durasi paparan radiasi yang disebabkan oleh lamanya tindakan intervensi. Paparan radiasi untuk ventrikulografi dan angiografi koroner dibandingkan dengan foto thoraks adalah 300 kali, coronary stent adalah 1000 kali, intervensi arteri perifer adalah 1500 sampai 2500 kali dan ablasi adalah 900 – 1500 kali.

Sejak tahun 1992, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat menerima laporan kasus radiation-induced injury . Kasus ini berupa perlukaan kulit pasien yang telah dilakukan tindakan intervensi dengan bantuan fluoroskopi. Efek samping radiasi tidak hanya terjadi di organ kulit saja tetapi di organ lain bahkan dapat menyebabkan keganasan. Data di Amerika Serikat menyebutkan resiko timbulnya keganasan akibat radiasi berkisar 20 %.

Peningkatan kuantitas prosedur kardiologi invasif menyebabkan ahli jantung yang bergerak dibidang intervensi akan mengalami paparan radiasi 2 – 3 kali lebih besar dibandingkan radiologi. Untuk setiap kali tindakan invasif, paparan radiasi yang terjadi minimal sebanding dengan 250 foto thoraks. Hal ini menyebabkan peningkatan kerusakan DNA somatik yang dapat mengarah ke keganasan.

Prinsip dalam radiasi adalah ALARA, merupakan kepanjangan dari as low as reasonably achiveables. Dari prinsip tersebut ditegaskan bahwa setiap paparan radiasi walaupun rendah tidak dapat dapat dinyatakan aman,yang menyebabkan kewajiban tenaga medis untuk meminimalkan setiap efek samping paparan radiasi terhadap pasien, staf dan dirinya sendiri. Tenaga medis harus memilki keterampilan penggunaan akan serta pengetahuan untuk dapat mengenali situasi yang dapat meningkatkan efek samping radiasi.



Naskah selengkapnya disini

PERAN ENDOTHELIAL PROGENITOR CELL DALAM PROSES REENDOTELIALISASI PASCA PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION (PCI)

Infan Ketaren, Yudi Her Oktaviono

Kerusakan atau disfungsi sel endotel merupakan stimulus utama untuk terjadinya arterosklerosis yang akan menyebabkan terjadinya gangguan aliran darah seperti yang dapat menyebabkan infark miokard akut yang juga termasuk dalam daftar penyakit utama penyebab kematian di dunia.

Meskipun percutaneous coronary intervention (PCI) meningkatkan perfusi miokard dan perbaikan klinis pada pasien dengan penyakit jantung iskemi, penanganan terhadap arteri koroner ini mengakibatkan trauma mekanik, dimana penipisan endotel dan laserasi endovaskular oleh stent dan tekanan tinggi oleh inflasi balon merusak fungsi vaskular dan mengawali respon inflamasi lokal.

Reendotelialisasi sebagai suatu komponen penting dalam perbaikan homeostasis vaskular akan terjadi melalui migrasi dan proliferasi dari sel endotel ke daerah endotel yang mengalami kerusakan, dimana perhatian akhir-akhir ini terhadap mekanisme terbaru dari perbaikan vaskular melibatkan precursor dari sumsum tulang atau stem sel yaitu Endothelial Progenitor Cell (EPC). Dimana EPC ini dianggap mengalami mobilisasi sebagai respon terhadap cedera vaskular dan berada di tempat kerusakan endotel, serta dapat memfasilitasi reendotelialisasi.

Penemuan dari EPC ini membuka suatu lapangan baru dalam penelitian kardiovaskular yang dapat mengubah pengertian kita tentang mekanisme perbaikan vaskular serta menawarkan pendekatan menarik dan baru di dalam menangani penyakit kardiovaskular dan komplikasi yang berhubungan dengan strategi revaskularisasi yang modern.


Naskah selengkapnya disini

BIOTERORISME

Nupriyanto, Eddy Soewandojo Soewondo


Bioterorisme adalah penyebaran senjata biologis, yaitu virus, bakteri atau toksin, secara disengaja dengan tujuan membunuh, melukai atau melumpuhkan musuh. Pada kenyataannya bioterorisme tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan dan tanaman.

Penggunaan bibit penyakit sebagai senjata biologis telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Pada abad ke-14 pasukan Tartar melontarkan mayat korban penyakit pes ke benteng musuh. Tahun 1763 Inggris menggunakan selimut yang telah terkontaminasi cacar untuk menginfeksi penduduk Indian. Saat Perang Dunia I kuman antraks dan glander digunakan Jerman untuk menyerang hewan ternak Sekutu. Pada Perang Dunia II Jepang mengembangkan program pembuatan senjata biologi di China yang meneliti berbagai agen biologi yang berpotensi sebagai senjata. Serangan bioterorisme pertama di Amerika Serikat terjadi pada tahun 1983 saat pengikut Rajneeshee menggunakan bakteri Salmonella yang kemudian menginfeksi 751 orang di Oregon. Pada 1993 kelompok Aum Shinrikyo menyebarkan antraks di Tokyo, tidak ada korban meninggal. Serangan bioterorisme yang terakhir adalah kiriman amplop yang mengandung spora antraks lewat pos pada tahun 2001, akibatnya sebanyak 22 orang dilaporkan terinfeksi dan 5 diantaranya meninggal.

Protokol Genewa pada tahun 1925 telah melarang penggunaan senjata biologis tetapi penelitian dan pembuatannya setelah itu tidak berkurang. Pada tahun 1972 sebanyak 140 negara menandatangani Konvensi Senjata Biologis yang melarang penelitian, pembuatan dan penyimpanan senjata biologis, karena dapat membunuh jutaan manusia dan menghancurkan sektor ekonomi dan sosial. Meskipun demikian, diperkirakan masih ada 17 negara masih membuatnya. Beberapa peristiwa serangan bioterorisme oleh kelompok teroris dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa bioterorisme masih merupakan ancaman semua negara sehingga harus dilakukan persiapan untuk mencegahnya.

Penyakit infeksi yang diakibatkan bioterorisme dapat menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang besar, kepanikan masal dan kekacauan sosial. Serangan bioterorisme juga menyebabkan kerugian materi yang besar, akibat lumpuhnya ekonomi karena kepanikan masyarakat, biaya vaksin atau obat-obatan profilaksis yang harus diberikan dan proses dekontaminasi yang harus dilakukan.

Serangan bioterorisme mungkin tidak disadari sampai timbul korban dalam jumlah besar. Hal ini disebabkan karena penyebarannya yang dilakukan secara diam-diam, adanya tenggang waktu antara paparan dengan munculnya gejala penyakit, dan sebagian besar dokter/paramedis tidak pernah menjumpai kasus penyakit antraks, pes, cacar dan penyakit lain akibat serangan bioterorisme serta adanya kesulitan dalam pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa.

Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas tentang macam-macam bioterorisme, bagaimana mengenalinya, penanganan serta langkah-langkah pencegahannya yang dapat dilakukan.


Naskah selengkapnya disini

16 Agustus 2010

CARDIOLOGY REFRESHMENT LECTURE


PASKALers yang terhormat,

PASKAL kembali mengadakan Cardiology Refreshment Lecture dengan topik "
Basic Cardiac CT" pada :
Hari : Jumat,
20 Agustus 2010
Pukul : 12.30 WIB s/d selesai
Tempat : Ruang Sidang Kardiologi Unair - RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Pembicara : Dr.
dr. J. Nugroho, SpJP, FIHA

Informasi ini sekaligus undangan dan mohon untuk disampaikan ke teman-teman lainnya.

Don't miss it...

Segenap anggota Paskal mengucapkan selamat kepada :
Dr. Imam Muslim, SpJP, Dr. R. M. Budiarto, SpJP dan Dr. Yusuf Suseno, SpJP yang telah dilantik sebagai kardiolog baru.

Selamat bekerja di tempat tugas dan sukses.

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini