07 September 2010

SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1431 H




Segenap pengurus dan anggota PASKAL mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H.
Mohon maaf lahir dan batin.


KONSEP TERKINI PERIPARTUM KARDIOMIOPATI

Miftahul Afandi, Esti Hindariati

Kejadian gagal jantung selama periode peripartum pertama kali dijelaskan oleh Ritchie pada tahun 1849, tetapi kardiomiopati baru diidenfikasi sebagai penyebab pada tahun 1937 oleh Gouley et al. PPCM didefinisikan sebagai kelainan yang patogenesis belum diketahui dimana terjadi disfungsi ventrikel kiri dan keluhan serta gejala gagal jantung terjadi antara 1 bulan terakhir kehamilan sampai 5 bulan pertama setelah melahirkan, dimana wanita tersebut tanpa keluhan, tanda atau riwayat penyakit jantung sebelumnya.

Epidemiologi, gejala klinis, penatalaksanaan dan prognosis PPCM telah dikaji sampai sekarang di berbagai tempat. Patogenesis dan etiologi sampai sekarang masih kontroversi, beberapa teori diusulkan untuk berbagai mekanisme penyebab perkembangan PPCM. Pengetahuan terbaru patogenesis dasar penyakit ini adalah defektif aksi prolactin sebagai kunci dasar jalur molecular pregnancies-induced cardiomyopathy pada wanita dan tikus.

Beberapa penyebab gagal jantung pada periode peripartum antara lain infeksi, toksik, atau gangguan metabolik dan iskemik atau penyakit katup jantung. Komplikasi kehamilan lebih bulan, toksimia dan amnion atau embolisme paru juga memberi gambaran gagal jantung sehingga harus disingkirkan sebelum membuat diagnosis PPCM.


Naskah selengkapnya disini

01 September 2010

SEORANG PENDERITA DENGAN COR PULMONALE KRONIS AKIBAT SILICOSIS


Primasari Ragawanti, Jatno Karjono

Istilah Pulmonary Heart Disease (salah satunya disebut Cor Pulmonale) merujuk pada disfungsi kardia yang berasal dari perubahan struktur dan fungsi paru. Dikarenakan paru berkorelasi dalam sirkuit kardiovaskuler antara ventrikel kanan dengan bagian kiri jantung, perubahan pada struktur atau fungsi paru akan mempengaruhi secara selektif jantung kanan.
1,2,3,5

Suatu studi terpercaya mengestimasi prevalensi kor pulmonale adalah jarang namun tersebar dimana-mana dan dinyatakan bahwa usia dibawah 50 tahun, kor pulmonale menempati urutan ketiga kelainan jantung paling sering setelah penyakit jantung koroner dan hipertensi. 40

Patofisiologi akhir yang umum yang menyebabkan kor pulmonale kronis adalah peningkatan kronis dari resistensi aliran darah melalui sirkulasi paru dan mengarah pada hipertensi arteri pulmonal (Pulmonary Arterial Hypertension/PAH). Meski kelainan paru yang menyebabkan kor pulmonale dapat diklasifikasikan dalam berbagai macam, namun pembahasan kita adalah klasifikasi berdasarkan mekanisme yang meningkatkan resistensi vaskuler paru (Pulmonary Vascular Resistance). 1,3,5,40

Silikosis adalah penyakit paru kerja yang disebabkan oleh inhalasi debu yang mengandung silika dioksida atau silika dalam bentuk kristalin. Angka prevalensinya potensial meningkat di seluruh dunia karena silika sangat murah dan merupakan komponen yang serba guna sehingga banyak digunakan di sektor industri dengan jutaan pekerja berkecimpung di dalamnya. Tempat kerja dengan resiko terkena silikosis antara lain : pertambangan emas, besi, timah, granit, pasir, batu tulis, pengecoran logam, pengasah dengan gerinda, sandblasting, pabrik semen, keramik, dan gelas 12,13,14,15,16

Meskipun paparan debu silika telah dihentikan tetapi proses silikosis tetap berlanjut bahkan dapat menimbulkan komplikasi. Hal ini disebabkan karena debu silika tidak dapat dicerna atau dieliminir. 17,18 Komplikasi yang sering terjadi antara lain infeksi oportunistik tuberkulosis, pneumotorak, rhematoid dan kor pulmonale.11,14,19,20

Laporan kasus ini akan membahas mengenai seorang penderita laki-laki usia 36 tahun yang didiagnosa sebagai silikosis terakselerasi yang mengalami komplikasi kor pulmonale.

Naskah selengkapnya disini

30 Agustus 2010

SINDROMA KARDIORENAL


Abraham Ahmad AF, Mochammad Thaha

Insufisiensi ginjal merupakan komorbid yang sering ditemukan dan membahayakan bagi pasien gagal jantung. Dua keadaan ini bila terjadi pada pasien yang sama akan mempunyai prognosis yang jelek (McAlister, 2004; Heywood, 2004). Dan lebih dari 30% pasien gagal jantung terjadi disfungsi ginjal (Geisberg, 2006).

Sementara itu, penyakit kardiovaskuler merupakan suatu masalah pada penyakit ginjal kronik (PGK) atau Chronic Kidney Disease (CKD). Sekitar 43,6% penyebab kematian pada gagal ginjal terminal atau End Stage Kidney Disease (ESKD) disebabkan karena penyakit jantung dan angka mortalitasnya lebih dari 10 kali dibandingkan dengan populasi umum. Pada ESKD, prevalensi Left Ventricular Hiperthrophy (LVH) dan Coronary Artery Disease (CAD) sekitar 40 – 75 %. Separuh jumlah penderita ESKD akan mengalami infark miokard dalam 2 tahun sejak dimulainya terapi dialisis dengan angka mortalitas yang tinggi (Bongartz, 2005).

Beberapa fakta di atas menunjukkan adanya interaksi antara penyakit kardiovaskuler dan penyakit ginjal yang lebih dikenal dengan sindroma kardiorenal atau Cardiorenal Syndrome (CRS). Banyak hal tentang sindroma kardiorenal yang masih belum terungkap jelas, antara lain definisi, patofisiologi serta penatalaksanaan yang tepat pada sindroma ini. Karena itu pada makalah ini akan dibahas mengenai sindroma kardiorenal, definisi, beberapa faktor yang berperan dalam patofisiologi sindroma ini, klasifikasi serta penatalaksanaannya.

Naskah selengkapnya disini

PERANAN STATIN DALAM PREVENSI ATRIAL FIBRILASI

Himawan Wicaksono, Budi Baktijasa

Atrial fibrilasi (AF) merupakan aritmia yang sering ditemukan pada berbagai kondisi klinis, dan merupakan sepertiga penyebab hospitalisasi karena gangguan irama jantung. Prevalensi AF diperkirakan 0,4 hingga 1% dari populasi umum, meningkat seiring pertambahan usia. Pada populasi usia di bawah 60 tahun prevalensinya kurang dari 1% sedangkan pada usia lebih dari 80 tahun mencapai lebih dari 8%.

Berbagai studi berbasis populasi memprediksi adanya peningkatan dramatis jumlah penderita AF pada empat dekade mendatang. Diperkirakan penderita AF pada dewasa di Amerika Utara akan mencapai 13,1 hingga 15,9 juta pada tahun 2050, begitu juga dengan populasi di Eropa. Namun estimasi perhitungan ini belum mencakup prevalensi silent AF.

Terjadinya AF terkait dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas karena stroke dan tromboemboli. AF berkaitan dengan 30% kejadian stroke akut. Resiko terjadinya stroke akibat AF adalah 1,5% pada usia 50-59 tahun dan mencapai 23,5% pada usia 80-89 tahun. AF menyebabkan resiko relatif kematian dari 1,3 hingga 2 kali tergantung dari faktor resiko. Beberapa pasien mengalami AF pada usia yang relatif muda beserta resiko komplikasinya hingga beberapa dekade. Selain stroke, komplikasi lain AF berupa gagal jantung, serta penurunan quality of life. AF post operatif merupakan penyebab penambahan lama rawat inap dan peningkatan biaya pengobatan.

Pemahaman akan patofisiologi yang mendasari AF serta manajemen terapi mutlak diperlukan. Pendekatan yang dilakukan pada penderita AF antara lain memberikan medikamentosa yang mengontrol rate, konversi irama, dan mencegah terjadinya tromboemboli. Obat antiaritmia dapat meningkatkan kemungkinan kembalinya irama sinus, namun tidak selalu mempengaruhi mortalitas secara keseluruhan. Meskipun telah banyak kemajuan pesat dalam hal prevensi rekurensi AF melalui pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis, prevensi primer dan modifikasi faktor resiko memiliki manfaat yang lebih besar pada populasi umum dibandingkan intervensi spesifik.

Selain itu diperkirakan pada dua pertiga pasien dengan atrial fibrilasi didapatkan kelainan jantung yang mendasari . Terdapat evidence yang menunjukkan bahwa hipertensi, diabetes mellitus, obesitas dan sindroma metabolik merupakan faktor resiko AF.

Statin adalah lipid lowering agent yang menghambat 3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzim A (HMG co-A reductase). Terapi statin terbukti efektif mengurangi morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler. Selain menurunkan kolesterol, statin memilki berbagai pleiotrophic effect. Berbagai evidence membuktikan peran statin dalam proteksi AF. Pemberian statin diharapkan dapat digunakan untuk prevensi terjadinya AF.



Naskah selengkapnya disini

25 Agustus 2010

KOMPLIKASI KARDIAK PADA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS

Indrayani, Dyah Priyatini

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronik yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru karena terpapar oleh gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Penyebab utama PPOK adalah rokok, akan tetapi asma, polusi udara luar maupun rumah serta tempat kerja, faktor genetik dan infeksi juga mempunyai peranan yang sangat penting.

Manifestasi kardiak sering terjadi pada penderita PPOK, meliputi : Disfungsi ventrikel kanan (cor pulmonale), Penyakit jantung koroner dan aritmia. Hubungan antara PPOK dengan komplikasi yang terjadi pada kardiak belum sepenuhnya dimengerti. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor resiko yang sama dari kedua penyakit ini yaitu rokok dan sejumlah faktor yang menyebabkan stress yang meningkat pada sistem kardiovaskuler, meliputi pemakaian obat-obatan β agonis, hipoksemia, hiperventilasi yang dapat menimbulkan alkalosis respiratorik dan inflamasi. Akibat dari faktor-faktor ini, pada penderita PPOK akan terjadi inflamasi sistemik dan peningkatan stress oksidatif sistemik yang selanjutnya akan menyebabkan kerusakan endotel vaskuler.

Mengingat komplikasi kardiak yang terjadi pada pasien PPOK menyebabkan tingginya hospitalisasi dan mortalitas, maka kami mencoba membahas dalam tinjauan kepustakaan ini, dengan harapan dapat menambah pengetahuan dalam mengelola pasien dengan penyakit yang multipel.

Naskah selengkapnya disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini