12 Desember 2010

PENATALAKSANAAN HIPERTENSI PADA SEORANG PENDERITA HAMIL DENGAN PREEKLAMPSIA BERAT


Umira, Diah Prihatini

Hipertensi pada kehamilan adalah masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Prevalensi hipertensi berkisar 6-10% dari seluruh kehamilan. Ada beberapa penyebab hipertensi pada kehamilan, dan yang paling penting adalah preeklamsia, karena preeklampsia menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi baik pada maternal maupun pada janin. Prevalensi preeklampsia di seluruh dunia berkisar 1-3% dari seluruh kehamilan.[1]

Preeklamsia adalah kondisi kehamilan yang spesifik, dimana hipertensi muncul setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu dengan disertai proteinuria lebih dari 300 mg per 24 jam atau persistent positif 1 pada pemeriksaan urine acak dengan menggunakan urine dipstick, tanpa adanya infeksi saluran kemih. Jika penderita dengan hipertensi sebelumnya dan kemudian didapatkan proteinuria maka disebut superimposed preeclampsia.[2]

Sampai saat ini penyebab preeklamsia belum diketahui dengan pasti, diduga timbul akibat supply darah yang abnormal pada placenta, mengakibatkan perfusi placenta jelek dan terjadi disfungsi endotel yang luas. Akibat disfungsi endotel yang luas terjadi disfungsi multiorgan, seperti hipertensi, proteinuria, edema cerebri, nyeri kepala occipital, kejang, peningkatan enzim hemolisis oleh hati dan kadar platelet yang rendah.[3]

Patofisisologi hipertensi pada preeklampsia disebabkan oleh iskemia atau hipoksia placenta. Akibat iskemia placenta, placenta mengeluarkan tyrosine kinase1, angiotensin II type 1 receptor autoantibody, dan sitokin - sitokin seperti tumor necrosis factor (TNF), yang mengakibatkan disfungsi yang luas maternal vascular endothelium. Manifestasi disfungsi ini meningkatkan produksi endothelin, reactive oxygen species (ROS), meningkatkan sensitifitas pembuluh darah terhadap angiotensin II dan penurunan produksi vasodilator yaitu nitric oxide dan prostacyclin. Kesemuanya ini pada akhirnya menimbulkan hipertensi melalui gangguan renal pressure natriuresis dan peningkatan total peripheral resistance.[4]

Hipertensi pada preeklamsia diyakini akibat kurangnya perfusi darah ke jaringan placenta. Sehingga penurunan tekanan darah dianggap tidak mampu memperbaiki proses patofisiologi primernya. Selama ini obat antihipertensi terbukti tidak pernah menyembuhkan preeklamsia. Obat antihipertensi ini hanya berfungsi untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler dan cerebrovaskuler akibat tekanan darah tinggi yang mendadak timbul pada penderita wanita muda yang sebelumnya tekanan darahnya normal.[3]

Berikut ini dibahas kasus wanita hamil bayi kembar aterm dengan preeklampsia berat (PEB) fokus pada penatalaksanaan hipertensinya.

Naskah selengkapnya disini

07 Desember 2010

MEETING OF MIND PPDS-1 KARDIOLOGI


Paskalers yang terhormat,

Mengharap kehadiran seluruh anggota Paskal pada :

Hari/Tgl : Kamis, 9 Desember 2010
Waktu : pukul 11.00 WIB (mohon datang tepat waktu)
Tempat : Ruang Sidang Kardiologi
Acara : Pertemuan rutin dengan Ketua Departemen-SMF, KPS dan SPS Kardiologi

Mohon disampaikan kepada teman-teman lainnya.


30 November 2010

HIPERTENSI EMERGENCY




Paskalers yang terhormat,

Mengharap kehadiran seluruh Paskalers dalam acara presentasi ilmiah pada :

Hari : Jumat, 3 Desember 2010
Jam : 09.30 - 11.00
WIB
Tempat : Ruang Sidang Kardiologi

Topik : Penanganan Hipertensi Emergency
Moderator : Prof. Dr. R. Moh. Yogiarto, SpJP (K)

Informasi ini sekaligus undangan dan mohon untuk disampaikan ke teman-teman lainnya.


Don't miss it...

28 November 2010

JADWAL JAGA BULAN DESEMBER 2010

LECTURE IN CARDIOLOGY INTERVENTION

Departemen - SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular pada tanggal 16 Nopember 2010 mengadakan kuliah tamu di Ruang Sidang Kardiologi RSUD Dr. Soetomo-FK Unair dengan topik :
"Lecture in Cardiology Intervention"
oleh Tadaya Sato, MD dari Akita Medical Center, Japan.

Tadaya Sato, MD

Lecture in Cardiology Intervention

Diskusi dengan Staf Departemen - SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK Unair - RSU Dr. Soetomo

Bersama para Staf Departmen - SMF Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK Unair - RSU Dr. Soetomo

Bersama Staf dan PPDS Kardiologi

Di Ruang Instalasi Diagnostik dan Intervensi Kardiovaskuler (IDIK) RSU Dr. Soetomo

11 November 2010

NYERI DADA


Krisna Indrawanto, Yudi Her Octaviono
Nyeri dada merupakan salah satu keluhan yang sering dikeluhkan oleh penderita. Sebagian besar penderita merasa takut apabila nyeri tersebut disebabkan oleh penyakit jantung maupun paru. Diagnosa yang tepat tergantung dari pemeriksaan fisik dan anamnesa pada penderita seperti sifat nyeri, lokasi, penyebaran, waktu, serta faktor pencetus yang menimbulkan nyeri dada tersebut. Salah satu bentuk nyeri dada yang paling sering terjadi adalah angina pektoris yang merupakan gejala penyakit jantung koroner yang bersifat progresif dan sering menyebabkan kematian, sehingga nyeri dada ini memerlukan pemeriksaan lebih lanjut serta penanganan yang serius agar diagnosis dapat segera ditegakkan dan terapi dapat segera diberikan. Agar kita dapat menegakkan diagnosa dengan tepat, maka kita perlu mengetahui lebih jauh jenis nyeri dada yang dapat disebabkan oleh berbagai macam kelainan organ tubuh.

Angina pektoris merupakan salah satu jenis nyeri di daerah dada yang dirasakan seperti rasa tercekik, dicengkeram, atau tertekan didaerah retrosternal yang menjalar ke lengan kiri daerah ulna, hal ini dapat juga menjalar ke lengan kanan atau pada kedua lengan, kadang-kadang dapat disertai penjalaran ke daerah leher, rahang, dan tenggorokan. Untuk mengevaluasi nyeri dada dari seorang penderita bukanlah suatu hal yang mudah. Harus dapat dibedakan apakah nyeri dada tersebut berasal dari jantung atau bukan. Kesalahan diagnosis akan merugikan penderita baik dari segi ekonomi maupun kejiwaan. Nyeri dada akan dengan mudah diinterpretasikan bila sifat nyerinya khas dan diikuti oleh gejala-gejala yang patognomonis. Namun banyak penyakit yang berasal dari rongga dada dan organ-organ dibawah diafragma yang dapat menyebabkan keluhan nyeri dada yang menyerupai angina.

Naskah selengkapnya disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini