22 Maret 2011

PRASUGREL : PENGHAMBAT GOLONGAN THIENOPYRIDINE TERBARU


Evy Febriane, Yudi Her Oktaviono

Penggunaan antiplatelet golongan thienopyridin menjadi sesuatu yang diperlukan dalam penatalaksanaan kardiolologi masa kini dan merupakan komponen esensial pada terapi sindroma koroner akut serta telah diteliti dalam suatu penelitian terkontrol secara acak pada lebih dari 200.000 penderita dengan penyakit kardiovaskuler. Ticlopidin dan clopidogrel telah digunakan secara luas saat ini untuk penatalaksanaan dan pencegahan penyakit kardiovaskuler dan serebrovaskuler dengan mencegah thrombogenesis untuk menghambat aktivasi platelet yang tergantung pada adenosine difosfat ( ADP ) melalui reseptor P2Y12 , yang merupakan salah satu reseptor ADP pada platelet . Clopidogrel sendiri memberikan onset aksi yang lebih cepat dan insiden efek samping seperti neutropenia dan purpura thrombositopeni thrombotik yang lebih rendah dibanding ticlopidin Golongan thienopyridin digunakan sebagai kombinasi dengan aspirin pada penderita sindroma koroner akut yang telah dilakukan pemasangan stent arteri koroner pada intervensi koroner perkutan. Regimen antiplatelet ganda yang digunakan pada pemasangan stent telah menunjukkan penurunan terhadap angka kejadian kardiovaskuler mayor (kematian kardiovaskuler , infark miokard, dan stroke) hingga 30% dibandingkan hanya dengan aspirin saja.

Naskah selengkapnya disini

PEMILIHAN KETUA PASKAL PERIODE 2011-2012

Pemilihan Ketua Paskal telah dilaksanakan. Telah terpilih dr. Miftahul Afandi sebagai ketua Paskal periode 2011-2012 menggantikan ketua Paskal sebelumnya, dr. M. Yusuf, SpJP.

Sambutan eks Ketua Paskal, dr. M. Yusuf, SpJP

Serah terima kepengurusan PaskalSambutan Ketua Paskal yang baru, dr. Miftahul Afandi.

Semoga dengan kepengurusan baru Paskal menjadi semakin maju dan sukses...

17 Maret 2011

INSTENT RESTENOSIS


Miftahul Afandi, Yudi Her Oktaviono

Restenosis adalah respon penyembuhan arteri setelah perlukaan yang terjadi selama revaskularisasi koroner transluminal. Restenosis dapat terjadi baik setelah Percutaneous Coronary Tranluminal Angioplasty (PTCA) saja ataupun yang dilanjutkan dengan pemasangan stent baik Bare Metal Stent (BMS) maupun Drug Eluting Stent (DES). Angka kejadian ISR 6 bulan setelah PTCA dengan balon biasa 30-50%, dimana 50-75% mengalami gejala iskemia berulang, dan paling sering mengalami angina progresif. Akhir-akhir ini penggunaan stent koroner diterima secara luas untuk mengurangi kejadian restenosis. Penggunaan BMS menurunkan kejadian restenosis 20-30% dibanding PTCA tanpa stent, angka ini terus menurun hingga 3-5%.1-3 Meskipun terjadi penurunan yang signifikan tetapi terapi dan pencegahan instent restenosis (ISR) masih menjadi tantangan tersendiri. Berbagai pendekatan terapi digunakan untuk pencegahan ISR mulai dari radiasi intrakoroner hingga penggunaan berbagai stent berselaput obat. Patofisiologi ISR melibatkan peranan seluler maupun molekuler, tetapi yang terpenting adalah adanya hiperplasia smooth muscle cell (SMC) yang tak terkendali.1,4
Revaskularisasi koroner melibatkan penggunaan stent pada lebih dari 70% kasus. Di Amerika Serikat, peningkatan penggunaan stent pada lesi yang lebih kompleks sehingga ISR terjadi 10-50% kasus yang diterapi sehari-hari. Akibatnya, ISR berkembang menjadi masalah klinis yang bermakna dan tantangan di bidang kardiologi intervensi. Perkiraan sekitar 250.000 pasien mengalami ISR pada tahun 1999. 1,2,4 Pada makalah ini akan dibahas mengenai definisi dan epidemiologi, patofisiologi, faktor predisposisi, presentasi klinis dan diagnosis, terapi, dan pencegahan ISR.

Naskah selengkapnya disini

PATOFISIOLOGI DAN DIAGNOSIS PENYAKIT ARTERI PERIFER PADA DIABETES


Akhtar Fajar M, Ari Sutjahjo

Penyakit arteri perifer atau peripheral arterial disease (PAD) merupakan suatu kumpulan kelainan yang ditandai oleh penyempitan atau oklusi arteri yang dapat menyebabkan penurunan perfusi jaringan ke ekstremitas. Pasien yang menderita PAD dapat asimtomatik namun jika penyakit ini bertambah parah, penderita umumnya mengalami morbiditas yang bermakna serta penurunan kualitas hidup sebagai akibat dari oklusi arteri perifer seperti klaudikasio intermiten serta gejala critical limb ischemia (CLI) yang ditandai dengan nyeri pada ekstremitas pada saat istirahat, ulserasi iskemik ataupun gangren. Pasien diabetes yang menderita PAD memiliki resiko tinggi terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular. Oleh karena jumlah penderita diabetes mellitus (DM) sangat banyak (120-140 juta orang) di seluruh dunia dan adanya kenyataan bahwa pasien diabetes memiliki risiko yang tinggi untuk menderita PAD maka implikasi dari masalah ini menjadi sangat besar (ADA, 2003). Sehubungan dengan hal tersebut maka pembahasan kali ini akan menitikberatkan pada pemahaman mengenai patofisiologi penyakit ini serta menentukan modalitas pemeriksaan yang tepat dan cepat dalam upaya penegakan diagnosis sehingga diharapkan manajemen PAD pada pasien diabetes menjadi lebih baik.

Naskah selengkapnya disini

07 Maret 2011

PENGAJIAN RUTIN


Mengharap kehadiran anggota Paskal pada acara Pengajian Rutin yang akan diadakan pada :

Hari, tanggal : Rabu, 9 Maret 2011
Jam : 13.00 s/d selesai
Tempat : Ruang Sidang Kardiologi
Tema : Motivasi Spiritual
Pembicara : Ust. Faqih Syarif H, SSi, MKom (Pengasuh Ponpes Fikrul Mustamir, Sidoarjo)

Demikian atas perhatian dan kehadiran saudara kami sampaikan terima kasih.

Mohon informasi ini diteruskan kepada teman-teman lainnya.

PENATALAKSANAAN PENDERITA DENGAN PERIKARDITIS AKUT IDIOPATIK

Evy Febriane, Dyah Prihatini

Perikardium merupakan suatu selaput tipis yang memisahkan jantung dari struktur mediastinum dan memberikan support struktural serta mempunyai dampak hemodinamik pada jantung. Perikardium terdiri dari 2 lapisan : viseral yang melekat dengan epikardium dan parietal. Perikardium bukan merupakan struktur yang esensial dimana fungsi jantung dapat tetap normal meskipun tidak terdapat perikardium. Penyakit perikardium dapat berupa perikarditis akut maupun rekuren kronik , efusi perikardium, tamponade jantung dan perikarditis konstrikstif. Etiologi penyakit perikardial seringkali sulit untuk ditentukan atau idiopatik. Namun, mikroorganisme termasuk virus dan bakteri, penyakit sistemik, neoplasia, penyakit autoimun , penyakit jaringan ikat, gagal ginjal, riwayat bedah jantung, riwayat infark miokard , trauma, diseksi aorta, radiasi dan obat ( meskipun jarang ) telah dihubungkan dengan etiologi penyakit perikardial . 1, 2,3

Perikarditis akut merupakan suatu peradangan pada perikardium dan dapat terjadi sebagai suatu entitas yang terisolasi atau sebagai manifestasi dari penyakit sistemik yang mendasari. Perikarditis akut merupakan penyakit yang umum dan sering terjadi yang harus diwaspadai. Hal ini terdiagnosis pada sekitar 0,1% dari pasien rawat inap dan 5% dari pasien yang masuk ke gawat darurat dengan nyeri dada non-kardiak.4 Pada kebanyakan pasien, penyebab perikarditis akut dianggap idiopatik karena hasil tes diagnostik untuk konfirmasi etiologi relatif rendah. Diketahui penyebab utama perikarditis akut meliputi virus dan bakteri (misalnya, tuberkulosa), penyakit sistemik ( autoreaktif atau immune-mediated ), invasi neoplastik perikardium, uremia, infark miokard akut sebelumnya , diseksi aorta , trauma dinding dada dan riwayat kardiotomi atau operasi toraks. 5,6

Dalam beberapa kasus, perikarditis akut membaik setelah pengobatan empiris dengan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS). Virus sering dianggap sebagai etiologi , tapi bukti untuk hal ini sering terlewatkan , karena untuk menegakkan diagnosa memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama sebelum hasil tes laboratorium ada. Penatalaksanaan bertujuan untuk meringankan gejala dan kebanyakan pasien masuk rumah sakit untuk diagnosis lengkap dan observasi terhadap komplikasi, khususnya efusi perikardial dan tamponade jantung .2,3

Sueddeutsche.de
Berikut adalah kasus seorang laki-laki dengan perikarditis akut idiopatik.

Naskah selengkapnya disini

JADWAL JAGA MARET 2011

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini