09 September 2011

DEFISIENSI BESI DAN ANEMIA PADA GAGAL JANTUNG KRONIK

Akhmad Nurdani, Budi Susetyo Pikir

Defisiensi besi jarang menjadi perhatian pada gagal jantung kronik, meskipun pada pasien gagal jantung kronik mempunyai kecenderungan untuk terjadi defisiensi besi. Hal ini diduga terkait dengan adanya penggunaan rutin aspirin, klopidogrel, preparat antiplatelet lainnya, dan antikoagulan. Disamping itu pada CHF juga terjadi peningkatan berbagai sitokin proinflamasi yang menyebabkan penumpukan besi di jaringan
RES dan menghambat
absorpsi besi, serta timbulnya CKD pada pasien CHF juga akan menyebabkan kecenderungan timbulnya defisiensi besi yang disertai anemia maupun tidak.

Angka prevalensi defisiensi besi pada CHF cukup bervariasi, mulai dari 21%
, hingga angka yang cukup tinggi cukup tinggi sekitar 73%.
Anemia sering dijumpai pada gagal jantung kronik, kondisi ini dapat menjadi marker prognostik pada pasien dengan gagal jantung kronik. Studi dari Val-HeFT mendapatkan penurunan Hb yang dialami pasien CHF selama 12 bulan dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas, sedangkan peningkatan Hb terkait dengan rendahnya angka mortalitas secara bermakna.
Naskah lengkap disini

06 September 2011

PENATALAKSANAAN DEEP VEIN THROMBOSIS (DVT)

Irma Yuliawati, J. Nugroho

Deep vein thrombosis
(DVT) merupakan pembentukan bekuan darah pada lumen vena dalam (deep vein) yang diikuti oleh reaksi inflamasi dinding pembuluh darah dan jaringan perivena. DVT disebabkan oleh disfungsi endotel pembuluh darah, hiperkoagulabilitas dan gangguan aliran darah vena (stasis) yang dikenal dengan trias virchow.
DVT terjadi pada kurang lebih 0,1% orang/tahun. Insidennya meningkat 30 kali lipat dibanding dekade yang lalu. Insiden tahunan DVT di Eropa dan Amerika Serikat kurang lebih 50/100.000 populasi/tahun.
Untuk meminimalkan resiko fatal terjadinya emboli paru diagnosis dan panatalaksanaan yang tepat sangat diperlukan. Kematian dan kecacatan dapat terjadi sebagai akibat kesalahan diagnosa, kesalahan terapi dan perdarahan karena penggunaan antikoagulan yang tidak tepat, oleh karena itu penegakan diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat diperlukan.


Naskah lengkap disini

Artefak dan Kesulitan dalam Ekokardiografi Klinis


Priscilia Myriarda, Agus Subagjo

Ekokardiografi merupakan suatu teknik pemeriksaan yang sudah dikenal untuk mengevaluasi dan memberikan informasi gambaran kelainan jantung dan pengukuran kuantitatif fungsi dan anatomi jantung. Ekokardiografi telah memberi perubahan dalam praktek ilmu kardiovaskular dengan meningkatkan pencegahan, diagnosis dan penatalaksanaan berbagai kelainan kardiovaskular. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling sering digunakan sebagai modalitas diagnostik penyakit jantung. Ketersediaanya, cara pemeriksaan non invasif dan rendahnya biaya pemeriksaan serta diikuti keunggulan penyediaan informasi berharga merupakan keuntungan yang diberikan pemeriksaan ini.
Selama beberapa dekade, ekokardiografi telah mengalami perkembangan teknologi secara pesat. Suatu informasi pengukuran dapat dilakukan dengan berbagai pemeriksaan (M-mode, 2 dimensi dan 3 dimensi, serta Doppler ekokardiografi). Walaupun demikian, ekokardiografi tetap merupakan teknik yang sangat tergantung pada operator. Pengetahuan mengenai anatomi dan patofisiologi bersama dengan kemampuan teknik operator yang tepat akan memberikan manfaat yang berguna dalam evaluasi penyakit jantung.

Naskah lengkap disini

MANIFESTASI KARDIOVASKULAR PADA HIV/AIDS


Tri Asih Imro’ati / Dyah Priyatini

Prevalensi manifestasi jantung pada HIV berkisar antara 28-73% (Khunnawat et al, 2008). Beberapa jenis penyakit jantung didapatkan saat otopsi sekitar 40% kasus, dan dengan ekokardiografi sekitar 25% pasien. Penyakit jantung terkait HIV kemungkinan menunjukkan gejala <10%, dan bisa menyebabkan kematian <2% dari semua pasien dengan infeksi HIV (Fuster et al, 2008).

Manifestasi kardiovaskular yang sering pada infeksi HIV adalah efusi perikardial, penyakit otot jantung, endokarditis, tumor, disfungsi ventrikel kanan, hipertensi pulmonal, aterosklerosis dini, penyakit arteri koroner, efek samping obat, penyakit vaskular, dan disfungsi otonomik (Restrepo et al, 2006; Fuster et al, 2008).


Naskah lengkap disini




03 September 2011

PATOFISIOLOGI SINDROMA RENOKARDIAK KRONIS


by Luluk Dwi Yuni/Mochammad Thaha

Hubungan yang erat antara ginjal dan jantung telah lama dikenal dengan istilah sindroma kardiorenal atau cardiorenal syndrome (CRS) dan didefinisikan sebagai gangguan pada jantung atau ginjal dimana gangguan yang bersifat akut maupun kronik pada salah satu organ akan mengganggu organ yang lain. Klasifikasi baru CRS dengan lima subtipe telah diusulkan, yaitu sindroma kardiorenal akut (CRS tipe 1), sindroma kardiorenal kronis (CRS tipe 2), sindroma renokardiak akut (CRS tipe 3), sindroma renokardiak kronis (CRS tipe 4) dan sindroma kardiorenal sekunder (CRS tipe 5) (Ronco et al, 2010). Makalah kali ini akan membahas lebih lanjut tentang sindroma renokardiak kronis (CRS tipe 4) yang dikarakterkan dimana kondisi primer PGK menyebabkan terjadinya penurunan fungsi jantung, hipertrofi ventrikel dan atau peningkatan resiko terjadinya kejadian kardiovaskular dengan penekanan terhadap patofisiologi terjadinya sindroma renokardiak kronis (Park et al, 2009).

Naskah lengkap disiniLink

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini