30 Oktober 2011

OUT BOND TAMAN DAYU 15 - 16 OKTOBER 2011

DAY 2 (TWO)









































































See you next year.....

OUT BOND TAMAN DAYU 15 - 16 OKTOBER 2011

DAY 1 (ONE)





































Pengajuan Judul Ilmiah Tinjauan Kepustakaan dan Kasus SMF Kardiologi UNAIR

Terkait dengan pengajuan judul ilmiah (tinjauan kepustakaan maupun kasus) oleh teman-teman PPDS Kardiologi maupun yang stase Kardiologi , berikut ini list yang dapat menjadi acuan pemilihan judul, judul dapat berulang jika sudah melebihi periode 2 tahun.

BTK

PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA USIA LANJUT

Arie K. Dewi, Muhammad Aminuddin

Usia lanjut merupakan prediktor kuat terjadinya penyakit arteri koroner pada individu. (Odden, 2011) Studi otopsi menunjukkan bahwa prevalensi penyakit koroner obstruktif meningkat kurang lebih 10-20% pada dekade empat hingga 50-70% pada dekade delapan. (Lakatta, 2008) Angka kematian akibat penyakit jantung koroner (PJK) diperkirakan meningkat 50% selama 30 tahun ke depan. (Odden, 2011)

Meningkatnya usia juga dikaitkan dengan keadaan atherosklerosis yang lebih berat dan menyeluruh serta sering disertai kerusakan ventrikel kiri, dengan kejadian tiga penyakit pembuluh dan penyakit arteri koroner kiri utama menjadi dua kali lipat antara usia 40-80 tahun. Penilaian klinis penderita penyakit arteri koroner yang berusia lanjut sering terhambat oleh penyakit dasar lain yang membuat interpretasi gejala iskemi menjadi sulit. Komorbid yang telah ada, turut membuat tes diagnostik dan terapi di bidang kardiologi lebih menantang untuk mereka yang berusia lanjut. (Lakatta, 2008)


Lihat disini

23 Oktober 2011

GAGAL JANTUNG PADA DIABETES MELLITUS

Agung Prasetiyo, Djoko Soemantri

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis progresif yang menyebabkan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular. DM merupakan faktor resiko independen terjadinya gagal jantung. Rangsangan neurohormonal memegang peranan pada patofisiologi terjadinya resistensi insulin, cardiovascular event, dan progresifitas gagal jantung. Penelitian Framingham menyatakan resiko terjadinya gagal jantung pada DM ±2,4 kali pada laki-laki dan ±5 kali lebih besar pada wanita. Kontrol glukosa yang buruk menurut United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) meningkatkan resiko gagal jantung pada DM tipe II. (Fonarow, 2005). Hubungan antara DM dan gagal jantung multifaktor dan kemungkinan berupa hubungan timbal balik, diabetes meningkatkan risiko terkena gagal jantung dan tampaknya meningkatkan risiko diabetes. Berdasarkan hasil penelitian UKPDS, setiap peningkatan HbA1c sebesar 1% akan meningkatkan resiko gagal jantung sebanyak 12%. Kardiomiopati diabetik merupakan penyebab utama gagal jantung pada penderita DM tipe I dan II (Roman, 2005; Kamalesh, 2007).

Lihat disini

Adiponektin dan Aterosklerosis

Yusdeny lanasakti, Iswanto Pratanu

Epidemi obesitas telah terjadi di seluruh dunia saat ini dan disertai dengan peningkatan prevalensi cardiovascular disease (CVD), seperti stroke dan serangan jantung. Disfungsi jaringan adiposa pada obesitas berhubungan dengan Penyakit Jantung Koroner (PJK) karena adipose mengeluarkan banyak lipid bioaktif dan beberapa adipokines yang memiliki efek merugikan pada sistem kardiovaskular. Adiponektin adalah salah satu dari beberapa adipokines yang memiliki efek bermanfaat pada sensitivitas insulin dan kesehatan kardiovaskuler (Maury, 2010: Ouchi, 2011) Banyak penelitian telah menemukan defisiensi adiponektin (hypoadiponectinemia) sebagai faktor risiko independen untuk PJK (Ai, 2011). Pada hewan coba, peningkatan adiponektin plasma oleh pendekatan farmakologis atau genetik berhasil mengendalikan obesitas yang berhubungan dengan disfungsi endotel dan hipertensi dan juga mencegah aterosklerosis, infark miokard dan diabetic cardiomyopathy. Lebih lanjut, banyak efek farmakologi dari beberapa obat seperti thiazolidinediones (TZDs), yang dimediasi oleh induksi adiponektin dan sebaliknya, beberapa obat ditemukan dapat menaikkan kadar adiponektin plasma seperti statins, angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitors dan TZDs ( Han, 2007).

Lihat disini

21 Oktober 2011

PERIKARDITIS UREMIK

Franky Renato Anthonius, Achmad Lefi

Penyakit ginjal kronis (PGK) hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang penting diseluruh dunia. Di Amerika Serikat PGK dikenal sebagai salah satu masalah kesehatan utama yang diderita sekitar 13% populasi. Prevalensi PGK diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup dan peningkatan prevalensi hipertensi dan diabetes melitus sehingga membawa konsekuensi peningkatan komplikasi PGK termasuk diantaranya pada sistem kardiovaskuler (Coresh, 2007).
Sebelum era terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy/RRT) timbulnya perikarditis pada penderita PGK stadium akhir (end stage renal disease/ESRD) berarti vonis mati. Kematian sering terjadi dalam 2 minggu setelah timbulnya perikarditis pada penderita tersebut sebelum era dialisis dan transplantasi (Alpert, 2003). Meskipun prognosis perikarditis pada penderita ESRD saat ini secara dramatis jauh lebih baik berkat penemuan dan perkembangan terapi dialisis maupun transplantasi, para ahli beranggapan bahwa keterlibatan perikardium dalam ESRD tetap merupakan penyebab penting kecacatan maupun kematian (Wood, 2001). Keterlibatan perikard pada ESRD umumnya bermanifestasi sebagai perikarditis dan dapat berkomplikasi sebagai efusi perikard, tamponade jantung, perikarditis berulang, dan perikarditis konstriktif (Alpert, 2003; Lange, 2004).

Lihat disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini