06 Desember 2011

PERAN GALECTIN-3 PADA GAGAL JANTUNG KRONIK

Faizal Pamewa, Iswanto Pratanu

Gagal jantung merupakan masalah medis yang besar dan masalah epidemiologi yang luas. Penelitian-penelitian terakhir, baik pada gagal jantung akut maupun kronik, menunjukkan hal ini masih terkait dengan tingginya morbiditas dan mortalitas (Lok, 2010). Gagal jantung merupakan disfungsi mekanik yang melibatkan berbagai interaksi mekanisme patofisiologis yaitu inflamasi, tissue remodelling, sinyal neurohormonal dan endokrin serta interaksi sistem ginjal dan saraf (Yanavitski, 2011). Identifikasi dini pada pasien beresiko tinggi dapat menyebabkan outcome yang baik dan biomarker memiliki nilai klinis yang penting dalam hal ini (Lok, 2010).

Meskipun dalam mendiagnosis dan stratifikasi resiko gagal jantung telah mengalami kemajuan, kita masih kekurangan alat untuk mendeteksi secara dini dan untuk memprediksi prognosisnya. Beberapa biomarker telah digunakan untuk mendiagnosis dan memprediksi prognosis pasien gagal jantung. Baru-baru ini, galectin-3 diusulkan sebagai biomarker baru (De Boer, 2011). Pada penelitian microarray, galectin-3 adalah salah satu mediator yang paling kuat yang banyak diekspersikan pada gagal jantung (Lin, 2009).


Lihat
disini

02 Desember 2011

Amiodaron induced Thyroid Disfunction

Lima Peni, Dyah Priyatini
Amiodaron merupakan obat anti aritmia yang banyak digunakan dalam penatalaksanaan aritmia. Obat ini efektif sebagai terapi baik aritmia ventrikuler, takikardi supraventrikuler maupun fibrilasi atrial. Amiodaron merupakan senyawa benzofuran yang strukturnya sangat mirip dengan hormon tiroid. Pemakaian obat ini memiliki efek terhadap organ tiroid. Efek yang ditimbulkan terhadap tiroid berupa kelainan disfungsi klinis, baik tirotoksikosis maupun hipotiroidisme yang terjadi akibat kandungan iodium yang tinggi dalam amiodaron maupun efek toksik obat secara langsung terhadap kelenjar tiroid. Disfungsi ini terjadi pada kondisi fungsi kelenjar yang normal maupun dengan penyakit tiroid sebelumnya. Pada saat ini obat baru Dronedarone yang mempunyai struktur mirip dengan amiodaron dengan tujuan mereplikasi efek antiaritmia amiodarone tetapi membatasi efek toksiknya.

Lihat
disini

30 November 2011

Penatalaksanaan Stoke Emboli Luxurious Bleeding dengan Recent IMA Antero-septal

Lima Peni, Bambang Herwanto

LinkStroke adalah gejala/defisit neurologis yang timbul mendadak akibat terganggunya aliran darah ke otak oleh karena oklusi pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah intrakranial. Stroke merupakan penyebab kematian ke-3 didunia . Sekitar 80% stroke terjadi akibat iskemia cerebral dan 20% akibat perdarahan cerebral. Sebanyak 20 % dari iskemia cerebral merupakan stroke embolik dan 65% diantaranya berkembang mengalami transformasi perdarahan yang disebut embolic stroke luxurious bleeding (Thygesen, 2007; Caplan, 2009). Infark Miokard Akut (IMA) adalah kematian sel-sel miokardium karena iskemia miokardium yang berkepanjangan. IMA merupakan penyebab utama kematian di dunia. Sebesar 450.000 orang di USA dilaporkan meninggal karena IMA setiap tahunnya (Sansing, 2008). Pemakaian antiplatelet pada penderita stroke emboli transformasi perdarahan/luxurious bleeding dan IMA belum banyak diteliti, tetapi pada saat ini beberapa penelitian penggunaan obat antiplatelet pada stroke perdarahan telah dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap perluasan perdarahan dan rekurensi ICH (AHA, 2009).

Lihat disini

27 November 2011

White-Coat Hypertension dan Ambulatory Blood Pressure Monitoring

Lima Peni, Budi.S.Pikir

White-coat hipertensi adalah suatu fenomena dimana pasien mempunyai tekanan darah yang meningkat pada saat di klinik tetapi normal pada saat diukur di luar klinik, seperti di rumah atau di tempat kerja. Angka morbiditas dan mortalitas pasien white-coat hipertensi lebih rendah dibandingkan pasien dengan sustained hipertensi , tetapi lebih tinggi dibandingkan mereka dengan normotensi. Pada 15% sampai 20% orang-orang dengan hipertensi stage 1, tekanan darah dapat meningkat pada saat diukur di klinik kesehatan, tetapi normal bila diukur di luar klinik, seperti rumah atau di tempat kerja.
Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) merupakan pemeriksaan menggunakan suatu alat yang dipakai oleh pasien untuk mengukur tekanan darah selama 24 sampai 48 jam secara ambulatory, dan telah divalidasi oleh standart internasional British Hypertension Society (BHS) atau American Association for the Advancement of Medical Instrumentasion . Pemeriksaan ini bermanfaat untuk mengevaluasi adanya variasi tekanan darah pasien dengan white - coat hipertensi.

Lihat disini

17 November 2011

IMPLANTABLE CARDIOVERTER-DEFIBRILLATOR

Jordan Bakhriansyah, Budi Baktijasa

Despite advances in medical system and in techniques of resuscitation, sudden death from cardiac arrest remains a major public health problem. ICDs were originally developed to prevent sudden cardiac death in patients who have experienced life-threathening vebtricular arrhythmias such as VT or VF. ICDs has evolved from short-lived nonprogrammable device requiring a thoracotomy for lead insertion into a multiprogrammable antiarrhytmia device implanted almost exclusively without thoracotomy, capable of treating bradycardia, VT, VF, and atrial tachycardia. Nowadays the ICD evolved from a therapy of last resort for patients with recurrent cardiac arrest to a management standard for use in primary prevention and secondary prevention of potentially fatal arrhytmias in patients with coronary heart disease.

Lihat disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini