04 Februari 2012

MANAJEMEN VARISES TUNGKAI

Romi Ermawan, J Nugroho Eko Putranto

Prevalensi varises tungkai berkisar 20-60% dan hampir seperempat populasi dewasa menderita penyakit ini. Sumber lain menyebutkan bahwa prevalensi pada wanita sebesar 20-25% sedangkan pada pria sebesar 10-15%. Penyakit ini juga merupakan salah satu penyakit terbanyak yang membutuhkan prosedur pembedahan. Saat ini penatalaksanaan varises tungkai sedang memasuki era yang baru. Sebelumnya penanganan secara pembedahan memegang peranan yang sangat dominan namun pada dekade terakhir mulai tergeserkan oleh metode-metode minimal invasive dan revolusi teknik intervensi endovaskuler. Berdasarkan perubahan era tersebut, maka pada artikel ini akan diangkat pembahasan mengenai manajemen varises tungkai dengan harapan para ahli jantung dan pembuluh darah dapat mengambil peran dalam menekan beban morbiditas yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

Lihat disini

03 Februari 2012

GUIDEWIRE PADA TINDAKAN ANGIOPLASTY KORONER

Gusti Rifansyah, Yudi Her Oktaviono

Penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di Amerika maupun secara global. Penyakit jantung koroner, salah satu jenis penyakit jantung, disebabkan oleh terbentuknya plak atau trombosis di dinding arteri yang mensuplai miokardium. Infark miokard merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh karena penyakit jantung koroner.(1)

Teknik invasif guna revaskularisasi miokard pada penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner (PJK) dapat berupa bedah pintas arteri koroner (coronary artery bypass graft/CABG) atau tindakan kateterisasi. Bedah pintas arteri koroner telah lebih dulu dikenal dalam penatalaksaan Penyakit Jantung Koroner (PJK) yaitu sejak tahun 1968. Sementara itu sebagai salah satu modalitas terapi, tindakan kateterisasi berupa percutaneous transluminal coronary angioplasty/PTCA baru pertama kali dilakukan pada September 1977 oleh seorang ahli radiologi berkebangsaan Swiss bernama Andreas Gruenzig.


Naskah lengkap disini

DEFEK SEPTUM ATRIUM TIPE SINUS VENOSUS SUPERIOR PADA SEORANG WANITA DEWASA

Gusti Rifansyah, Ahmad Lefi

Defek Septum Atrium (DSA) adalah adanya hubungan antara atrium kiri dan atrium kanan sebagai akibat terganggunya proses embriologi organ jantung saat terjadinya pertumbuhan septum interatrium. Angka kejadiannya berkisar 7-10 % dari seluruh penyakit jantung bawaan (PJB), dan merupakan jenis PJB tersering yang didapatkan pada usia dewasa. Sebanyak 20% kasus bisa menutup secara spontan pada umur 1 tahun pertama, jarang bisa menutup spontan setelah umur 2 tahun.

Secara anatomis bergantung pada letak defek pada septum interatrial, terdapat 3 jenis DSA, yaitu ostium sekundum (75%), ostium primum (15%) dan sinus venosus (10%)

Naskah lengkap disini

Keterlibatan Mekanisme Imunologi pada Remodeling Ventrikel Kiri

Iman Haryana, Ari Baskoro

Mekanisme remodeling ventrikel kiri bersifat multifaktorial. Banyak reaksi biologi yang terlibat di dalamnya (Hori,2009). Remodeling ventrikel kiri berhubungan dengan reaksi inflamasi yang diikuti pembentukan jaringan fibrosis pada daerah infark dan sekitarnya (Sun,2009). Pembahasan tulisan ini menitikberatkan pada pemahaman mengenai mekanisme imunologi pada patofisiologi remodeling ventrikel kiri. Hal ini akan memperlihatkan bahwa remodeling ventrikel kiri banyak dipengaruhi oleh aktivitas sistem imun.

Lihat disini

02 Februari 2012

DPJP PER FEBRUARI 2012

JADWAL JAGA PPDS KARDIOLOGI PER FEBRUARI 2012

Peranan Ivabradin pada Penyakit Jantung Koroner

Lakhsmi Pramushinta, Rochmad Romdoni

Angina pektoris merupakan gejala utama dari penyumbatan aterosklero
sis arteri koroner, yang akan timbul jika ada ketidakseimbangan antara suplai oksigen pada otot jantung dengan kebutuhannya. Denyut jantung (heart rate) adalah salah satu faktor penentu penting myocardial oxygen demand, sehingga peningkatan denyut jantung dianggap memiliki peran terhadap mayoritas kejadian kardiovaskular pada penderita-penderita PJK. Denyut jantung yang meningkat dapat merangsang timbulnya iskemia miokard dan angina melalui peningkatan kebutuhan oksigen dan penurunan perfusi miokard, sebagai akibat durasi fase diastol yang memendek. Oleh karena itu, reduksi denyut jantung menjadi salah satu poin penting dalam manajemen PJK.
Obat golongan β-blocker dan beberapa jenis calcium-channel blocker (CCB) telah sering digunakan untuk tujuan tersebut diatas, namun pemakaiannya tak jarang dibatasi oleh efek-samping (adverse effect) dan kontraindikasinya. Sebagai alternatif, ivabradin sebagai pure heart-rate lowering agent dapat dipilih. Sifatnya yang selektif terhadap If current, efektif menurunkan denyut jantung tanpa mempengaruhi kontraktilitas, konduksi dan repolarisasi. Beberapa uji/trial klinis menunjukkan tentang efikasi dan keamanan dari obat ini, dimana efek anti angina ivabradin sebanding (non inferior) dengan atenolol dan amlodipin serta tidak menimbulkan rebound phenomena apabila dihentikan segera.

Lihat disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini