19 November 2008

NUTRITIONAL SUPPORT OF THE STRESSED ICU PATIENT


Rosemary A. Kozar, MD, PhD; FrederickA. Moore, MD;Margaret M. McQuigguru MS, RD
diterjemahkan oleh Himawan Wicaksono, Soedarsono

Berbagai kondisi perawatan ICU menyebabkan respon metabolisme yang disebut “respon stress injury”. Respon ini dimediasi oleh sistem saraf pusat disertai peningkatan hormon counter-regulatory (katekolamin, kortikosteroid, glukagon). Systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan peningkatan mediator (TNF-ยต,IL-1, IL-2,IL-6) berperan dalam respon stress injury. Kita perlu mengontrol penyebabnya dan memberi substrat eksogen yang mendukung sistem metabolik.
Respon stress injury menyebabkan peningkatan resting energy expenditure (REE), tergantung tipe dan beratnya pencetus (REE dapat meningkat 100% pada luka bakar, 50% pada sepsis, 40% pada trauma, 30% setelah pembedahan). Untuk memenuhi kebutuhan metabolik, diperlukan mobilisasi substrat. Cadangan glukosa akan berkurang, terjadi glukoneogenesis, serta stimulasi jaringan adiposa untuk melepaskan free fatty acid(FFA). Lipolisis meningkat melebihi oksidasi lipid. Trigliserid plasma meningkat, juga terjadi peningkatan katabolisme protein. Protein otot, juga protein seperti albumin, prealbumin, transferin dipecah dan menjadi asam amino, yang menjadi substrat untuk sintesis protein fase akut (faktor pembekuan, gammaglobulin, dan C-reactive protein), glukoneogenesis serta produksi energi. Respon injury stress berbeda dengan starvasi kronik.
Naskah lengkap disini

13 November 2008

NON INVASIVE VENTILATION IN ACUTE CARDIOGENIC PULMONARY EDEMA


Haryati, Budi Baktijasa

Ventilasi non invasif (Non invasive ventilation=NIV) adalah penggunaan bantuan ventilator tanpa disertai bantuan alat-alat jalan nafas invasif. NIV pada beberapa tahun terakhir telah mempunyai peranan penting dalam penanganan gagal nafas akut yang disebabkan oleh berbagai penyebab pada berbagai instalasi kesehatan.
Gagal nafas karena edema paru kardiogenik akut merupakan keadaan gawat darurat medik yang sering ditemukan, dan hampir satu juta penderita datang ke rumah sakit pertahun di USA. Angka kematian karena edema paru kardiogenik akut cukup tinggi mencapai 10 – 20%, terutama jika didapatkan bersamaan dengan infark miokard akut.
Penderita dengan edema paru kardiogenik akut sering menderita distress nafas berat dan hipoksemia. Walaupun mayoritas penderita memberikan respon terhadap terapi konvensional, diantaranya pemberian oksigen, diuretika, opiates, dan nitrat, tetapi pada beberapa penderita memerlukan bantuan ventilator. Pada masa terdahulu bantuan ventilator ini dilakukan dengan menggunakan intubasi endotrakeal dan ventilator mekanik, namun saat ini noninvasive positive pressure ventilation (NPPV) banyak digunakan sebagai modalitas terapi pada beberapa kasus gagal nafas akut, termasuk diantaranya edema paru kardiogenik akut. Keuntungan NPPV adalah penderita lebih nyaman, mampu untuk makan dan berbicara, dan mencegah komplikasi yang berkaitan dengan intubasi endotrakeal seperti pneumonia nosokomial maupun trauma saluran nafas atas. Efek menguntungkan NPPV pada gagal nafas karena edema paru kardiogenik akut adalah memperbaiki oksigenasi, meningkatkan cardiac output dan mengurangi kerja pernapasan.
Faktor penting yang menentukan keberhasilan penatalaksanaan gagal nafas akut adalah penggunaan dini NIV. Penggunaan NIV saat ini semakin meningkat dan menjadi salah satu modalitas terapi pada intensive care unit.
Naskah lengkap disini

03 November 2008

SeLaMaT (Lagi)

Paskalers mengucapkan SELAMAT atas Kelahiran anak ketiga dari dr. Suryono, perempuan (akhirnya..), pd hari kamis 30 Oktober 2008.. semoga jadi anak yg saleh, patuh pada orang tua, cerdas, sehat-sehat selalu.. dan berguna bagi agama dan masyarakat..
sekali lagi SELAMAT ya mas..

29 Oktober 2008

SEORANG PENDERITA NSTEMI DENGAN LONG QT SYNDROME

Yusra Pintaningrum, Jatno Karjono

Sindroma QT memanjang (Long QT Syndrome/ LQTS) merupakan sindroma yang melibatkan sistem elektrik jantung. Diperkirakan terjadi pada 1 diantara 5000 orang dan menyebabkan 3000 kematian di Amerika Serikat (AS) setiap tahun. Saat jantung memompa darah, sistem elektrik membutuhkan pengisian ulang diantara denyut. Pada orang dengan LQTS, sistem elektrik jantung membutuhkan waktu lama untuk pengisian ulang. Hal ini membuat jantung peka terhadap masalah irama, sering memicu aritmia sehingga jantung berhenti memompa darah ke seluruh tubuh dan memicu kematian.
LQTS dapat terjadi pada penderita dengan gangguan elektrolit dan pengaruh obat-obatan tertentu. Selain itu, beberapa penelitian menyebutkan abnormalitas repolarisasi kardiak berkaitan dengan iskemia miokard regional. Untuk itu, setiap klinisi harus memahami penderita dengan LQTS, sehingga dapat memberikan penatalaksanaan secara tepat, jika tidak maka akan memperburuk kondisi penderita tersebut. Berikut ini kami bahas seorang penderita infark miokard akut tanpa elevasi segmen ST (Non ST Elevation Myocard Infarct / NSTEMI) yang mengalami LQTS.
Naskah lengkap disini

27 Oktober 2008

SEORANG PENDERITA DENGAN TUMOR DI ATRIUM KANAN


Imam Muslim, Agus Subagjo

Tumor di ruang jantung merupakan penyakit yang sangat jarang dijumpai. Sampai tahun 1950 diagnosis tumor jantung masih berdasarkan pemeriksaan post mortem semata. Dalam satu serial terdiri dari 12.000 otopsi, hanya tujuh yang diidentifikasi sebagai tumor primer dari jantung, dengan insiden 0,001 sampai 0,03 persen. Sebagai pembanding, adanya tumor metastase pada jantung adalah 20 kali lebih sering daripada tumor primer dari jantung, dan telah dilaporkan dalam serial otopsi terdapat lebih dari satu pada lima pasien yang meninggal karena kanker. 1,2
Tumor jantung seringkali mempunyai gejala klinik dan simptom tidak spesifik atau mirip dengan penyakit lain. Bahkan seringkali tumor jantung hanya menimbulkan gejala yang ringan dan dengan pemeriksaan rutin tidak dapat mengidentifikasi adanya tumor. Dengan berkembangnya pemeriksaan ekhokardiografi, Computed Tomografi (CT) dan nuclear magnetic resonance imaging (MRI) mempunyai andil yang sangat besar dalam menegakkan diagnosa preoperatif tumor jantung. 1,3
Sekitar 75% dari tumor jantung secara histologis jinak, dan sisanya ganas. Tumor jinak yang paling banyak adalah miksoma, yang diperkirakan 50% dari total serial kasus klinis pada dewasa dan lebih dari 90% pada serial kasus bedah. Sekitar 75% miksoma terdapat pada atrium kiri, dimana perlekatannya tersering pada regio limbus fossa ovalis. Miksoma juga dapat di temukan pada atrium kanan (15-20 persen), dan lebih jarang lagi pada ventrikel kanan atau kiri serta katup atrioventrikuler. 4,5,6 Selanjutnya rhabdomyoma, lipoma, papillary fibroelastoma, fibroma, hemangioma, teratoma dan beberapa jenis tumor ganas yang kurang lebih seperempat dari tumor jantung antara lain: angiosarcoma, fibrosarcoma, ostesarcoma dan jenis lain. 3,7

naskah lengkap disini

18 Oktober 2008

SeLaMaT!!

Keluarga besar PASKAL mengucapkan:

SELAMAT buat dr. Fadilla yang telah melahirkan putri (anak ke-3) dan dr. Priscilia yang kemarin melahirkan putra pertamanya, di RS. Husada Utama.. semoga menjadi anak yang saleh, patuh pada orang tua, sehat-sehat selalu, cerdas, dan berguna bagi agama nusa dan bangsa.. amin!

06 Oktober 2008

TERAPI STEM CELLS PADA PENYAKIT JANTUNG

Margono, Iswanto Pratanu

Walaupun terjadi kemajuan besar dalam pengobatan dan intervensi, gagal jantung yang diakibatkan oleh kerusakan iskemik yang berhubungan dengan aterosklerosis masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara maju. Bahkan dalam suatu penelitian dikatakan, mortalitas tahunan gagal jantung masih sebesar 7,2 % meskipun telah diberikan terapi medis terbaru.9,17

Mayoritas pasien gagal jantung memiliki riwayat penyakit arteri koroner atherosklerotik. Sebagai etiologi utama gagal jantung, penyakit jantung koroner terjadi pada lebih dari 70% pasien. Pada gagal jantung, sel jantung mengalami perubahan degeneratif, apoptosis dan hipertrofi. Sel yang sekarat atau mati di jantung tidak hanya terdiri dari sel-sel otot jantung, tetapi juga sel vascular atau sel non miogenik lain. Karena hilangnya miosit, jantung meningkatkan produksi jaringan fibrosis, sehingga menyebabkan pembentukan jaringan parut dan berkurangnya kontraktilitas.6,7,19
Transplantasi jantung masih menjadi pilihan terapi untuk pasien pada stadium akhir gagal jantung. Namun banyak hambatan untuk melakukan prosedur ini seperti : sedikitnya jumlah organ donor, reaksi penolakan imunitas, dan komplikasi infeksi dan sebagainya. Karena adanya hambatan-hambatan ini para peneliti mencari terapi alternatif yang dapat secara efektif memperbaiki jantung yang rusak dan secara permanen memulihkan fungsinya.
Naskah lengkap disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini