17 Agustus 2011

Arti Klinis Skor Kalsium pada Penyakit Jantung Koroner


Sanggap Indra Sitompul, Mohammad Soetomo

Kalsifikasi arteri koroner (Coronary Artery Calcium=CAC) sejak lama telah diketahui berhubungan dengan aterosklerosis maupun perkembangan plak aterosklerosis (Schemermund A, 2001; R.M. Gowda, 2004; Paolo, 2006).

Tehnologi pencitraan non invasif Multidetector Computer Tomography (MDCT) scanner dapat memberikan deteksi yang akurat, penjumlahan kalsifikasi kardiovaskular, dan juga kemampuan memonitor efektifitas terapi awal untuk mengurangi perkembangan penyakit. Baru-baru ini diperlihatkan bahwa progresi kalsifikasi miokardial menunjukkan petanda resiko infark miokard dan kematian akibat jantung pada pasien-pasien yang diobati maupun tidak. Sehingga menjadi pertimbangan yang menarik dalam penggunaan modalitas non infasif pencitraan CT untuk mengikuti perkembangan kalsifikasi kardiovaskular pada berbagai keadaan pasien (Paolo, 2006).

Schoereder dkk menyebutkan bahwa penggunaan MSCT dapat membedakan konfigurasi lesi koroner dengan jelas, sehingga metode ini dapat menjadi alat diagnostik penting untuk stratifikasi resiko (Schoereder, 2001).

Penelitian lain menunjukkan bahwa total area kalsifikasi arteri koroner berkorelasi tinggi dengan total area plak arteri koroner. Namun terdapat juga plak yang tidak berhubungan dengan kalsium koroner, sehingga hasil ini menunjukkan hampir semua ukuran plak koroner berhubungan dengan kalsium koroner tetapi bagi plak yang lebih kecil, kalsium tersebut tidak ada atau tidak terdeteksi (Rumberger, 1995).

Berikut ini kami akan menjelaskan peranan (implikasi dan validitas) pemeriksaan metode non invasif nilai skor kalsium terhadap penyakit jantung koroner (PJK) berdasarkan evidence based dari beberapa literatur.

Naskah lengkap disini

13 Agustus 2011

Infark Miokard pada Pasien Dewasa Muda

14 Juli 2011
Ardian Rizal, Jatno Karjono

Kejadian Infark Miokard (MI) pada kelompok usia dewasa muda (kurang dari 45 tahun) jarang didapatkan. Beberapa studi menunjukkan hanya sekitar 3,0 % dari semua kasus MI terjadi pada usia dibawah 45 tahun.
Tidak seperti patofisiologi MI pada umumnya, yakni akibat proses atherosklerosis. PJK pada usia muda memiliki beberapa mekanisme patologi lain (non atherosklerotik) yang akan dibahas lebih lanjut. Selain itu, manifestasi klinis yang dimilikinya pun sedikit berbeda dengan manifestasi klinis MI pada umumnya.
Insiden MI pada dewasa muda akhir – akhir ini semakin meningkat. Etiologinya sangat bervariasi. Secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu akibat aterosklerosis dan tanpa aterosklerosis. Diantaranya akibat penggunaan kokain, SLE, HIV – AIDS dan lain – lain.Oleh karena itu etiologi nya harus diidentifikasi dengan benar, oleh karena akan berpengaruh terhadap pemberian manajemen lanjutan.

Naskah lengkap disini

ACUTE LIMB ISCHEMIA DAN CONTRAST INDUCED NEPHROPATHY PADA PENDERITA KARDIOMIOPATI ALKOHOLIK

10 Agustus 2011
Romi Ermawan, Agus Subagjo

Peripheral arterial disease (PAD) adalah suatu penyakit obstruksi pembuluh darah yang mengganggu asupan darah ke ekstrimitas. PAD seringkali tidak terdiagnosis dan luput dari penanganan yang optimal terutama dalam hal pengobatan maupun modifikasi faktor resiko. Salah satu manifestasi PAD adalah acute limb ischemia (ALI), yaitu penurunan atau perburukan perfusi yang terjadi kurang dari 14 hari yang menyebabkan ancaman bagi mobilitas dan viabilitas anggota gerak.
Contrast induced nephropathy (CIN) adalah suatu gangguan fungsi ginjal akut dimana terjadi peningkatan nilai kreatinin serum sebesar 0.5 mg/dL atau 25% dari nilai semula pada 48 jam setelah pemberian media kontras tanpa ada penyebab yang lain. Insiden CIN meningkat tajam seiring dengan peningkatan jumlah penggunaan media kontras intravaskuler yang mengandung iodine di bidang kesehatan dengan perkiraan 80 juta liter kontras setiap tahunnya di seluruh dunia.
Pada artikel ini akan dibahas sebuah kasus seorang penderita kardiomiopati alkoholik yang mengalami acute limb ischemia (ALI) dan dalam perjalanannya setelah menjalani suatu prosedur diagnostik penderita tersebut jatuh ke dalam contrast induced nephropathy (CIN).

Naskah lengkap disini

11 Agustus 2011

Exercise Stress Test pada wanita

Depri Sumantha, Budi S. Pikir

Penyakit jantung masih merupakan penyebab kematian pertama pada wanita di Amerika Serikat, lebih banyak wanita yang meninggal karena penyakit jantung dibanding pria. Wanita yang menderita penyakit jantung koroner memiliki prognosis yang lebih buruk di banding pria dengan penyakit yang sama.
Diperlukan evaluasi untuk mendeteksi secara dini penyakit jantung koroner pada wanita serta dapat dilakukan strategi penatalaksanaan yang tepat. Diagnosis penyakit jantung koroner pada wanita cukup sulit. Media diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi penyakit jantung koroner pada wanita memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang lebih rendah dibanding pada pria.
Perkembangan terakhir menyebutkan EST merupakan metode diagnosis yang paling sering digunakan pada untuk mendiagnosis penyakit jantung koroner pada wanita. EST dengan rekaman elektrokardiografi (EKG) merupakan pilihan utama pemeriksaan secara noninvasif yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit jantung koroner.
Guidelines American Heart Association/American College of Cardiology (AHA/ACC)
untuk Exercise Testing dan Guidelines tahun 2005 the Role of Noninvasive Testing in the Clinical Evaluation of Women with Suspected Coronary Artery Disease merekomendasikan EST dengan rekaman EKG menjadi pilihan utama diagnostik pada wanita dengan keluhan angina yang memiliki faktor resiko sedang, meskipun hasil rekaman EKG pada saat istirahat normal.

Makalah lengkap disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini