02 Februari 2012
Peranan Ivabradin pada Penyakit Jantung Koroner
Lakhsmi Pramushinta, Rochmad Romdoni
Angina pektoris merupakan gejala utama dari penyumbatan aterosklero
sis arteri koroner, yang akan timbul jika ada ketidakseimbangan antara suplai oksigen pada otot jantung dengan kebutuhannya. Denyut jantung (heart rate) adalah salah satu faktor penentu penting myocardial oxygen demand, sehingga peningkatan denyut jantung dianggap memiliki peran terhadap mayoritas kejadian kardiovaskular pada penderita-penderita PJK. Denyut jantung yang meningkat dapat merangsang timbulnya iskemia miokard dan angina melalui peningkatan kebutuhan oksigen dan penurunan perfusi miokard, sebagai akibat durasi fase diastol yang memendek. Oleh karena itu, reduksi denyut jantung menjadi salah satu poin penting dalam manajemen PJK.
Obat golongan β-blocker dan beberapa jenis calcium-channel blocker (CCB) telah sering digunakan untuk tujuan tersebut diatas, namun pemakaiannya tak jarang dibatasi oleh efek-samping (adverse effect) dan kontraindikasinya. Sebagai alternatif, ivabradin sebagai pure heart-rate lowering agent dapat dipilih. Sifatnya yang selektif terhadap If current, efektif menurunkan denyut jantung tanpa mempengaruhi kontraktilitas, konduksi dan repolarisasi. Beberapa uji/trial klinis menunjukkan tentang efikasi dan keamanan dari obat ini, dimana efek anti angina ivabradin sebanding (non inferior) dengan atenolol dan amlodipin serta tidak menimbulkan rebound phenomena apabila dihentikan segera.
Lihat disini
Angina pektoris merupakan gejala utama dari penyumbatan aterosklero
sis arteri koroner, yang akan timbul jika ada ketidakseimbangan antara suplai oksigen pada otot jantung dengan kebutuhannya. Denyut jantung (heart rate) adalah salah satu faktor penentu penting myocardial oxygen demand, sehingga peningkatan denyut jantung dianggap memiliki peran terhadap mayoritas kejadian kardiovaskular pada penderita-penderita PJK. Denyut jantung yang meningkat dapat merangsang timbulnya iskemia miokard dan angina melalui peningkatan kebutuhan oksigen dan penurunan perfusi miokard, sebagai akibat durasi fase diastol yang memendek. Oleh karena itu, reduksi denyut jantung menjadi salah satu poin penting dalam manajemen PJK.Obat golongan β-blocker dan beberapa jenis calcium-channel blocker (CCB) telah sering digunakan untuk tujuan tersebut diatas, namun pemakaiannya tak jarang dibatasi oleh efek-samping (adverse effect) dan kontraindikasinya. Sebagai alternatif, ivabradin sebagai pure heart-rate lowering agent dapat dipilih. Sifatnya yang selektif terhadap If current, efektif menurunkan denyut jantung tanpa mempengaruhi kontraktilitas, konduksi dan repolarisasi. Beberapa uji/trial klinis menunjukkan tentang efikasi dan keamanan dari obat ini, dimana efek anti angina ivabradin sebanding (non inferior) dengan atenolol dan amlodipin serta tidak menimbulkan rebound phenomena apabila dihentikan segera.
Lihat disini
01 Februari 2012
Seorang Penderita Mioperikarditis Akut Akibat Sindroma Weil
Lakhsmi Pramushinta, Jatno Karjono
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh genus Leptospira yang patogen. Penyakit ini dapat ditemukan hampir di seluruh dunia dengan frekuensi tertinggi di daerah tropis. Berdasarkan data Depkes RI tahun 2007, insidennya di Indonesia adalah sebesar 0,5/100.000 penduduk. Spektrum klinis leptospira bervariasi mulai dari subklinis hingga melibatkan berbagai organ. Sindroma Weil adalah bentuk leptospirosis yang berat, ditandai dengan gejala fulminan disertai onset yang cepat dari kegagalan hati dan ginjal sehingga memiliki tingkat
mortalitas yang tinggi. Kematian akibat sindroma ini terjadi lebih dari 10% dan umumnya terkait dengan ikterik yang berat, gagal ginjal oligurik, manifestasi perdarahan serta gagal jantung dan napas.
Keterlibatan jantung pada leptospirosis dapat bersifat asimptomatis (misalnya kelainan ECG yang jinak/benign) hingga fatal (seperti miokarditis berat). Penelitian post-mortem pada kasus-kasus leptospirosis yang fatal, menemukan adanya perdarahan dan inflamasi pada perikardium, miokardium atau endokardium, serta coronary arteritis dan aortitis. Namun manifestasi kardiak ini sering kurang mendapat perhatian (underestimated) ataupun tertutupi oleh gambaran perdarahan paru dan komplikasi hepatorenal.
Lihat disini
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh genus Leptospira yang patogen. Penyakit ini dapat ditemukan hampir di seluruh dunia dengan frekuensi tertinggi di daerah tropis. Berdasarkan data Depkes RI tahun 2007, insidennya di Indonesia adalah sebesar 0,5/100.000 penduduk. Spektrum klinis leptospira bervariasi mulai dari subklinis hingga melibatkan berbagai organ. Sindroma Weil adalah bentuk leptospirosis yang berat, ditandai dengan gejala fulminan disertai onset yang cepat dari kegagalan hati dan ginjal sehingga memiliki tingkat
mortalitas yang tinggi. Kematian akibat sindroma ini terjadi lebih dari 10% dan umumnya terkait dengan ikterik yang berat, gagal ginjal oligurik, manifestasi perdarahan serta gagal jantung dan napas.Keterlibatan jantung pada leptospirosis dapat bersifat asimptomatis (misalnya kelainan ECG yang jinak/benign) hingga fatal (seperti miokarditis berat). Penelitian post-mortem pada kasus-kasus leptospirosis yang fatal, menemukan adanya perdarahan dan inflamasi pada perikardium, miokardium atau endokardium, serta coronary arteritis dan aortitis. Namun manifestasi kardiak ini sering kurang mendapat perhatian (underestimated) ataupun tertutupi oleh gambaran perdarahan paru dan komplikasi hepatorenal.
Lihat disini
30 Januari 2012
06 Januari 2012
Hipertensi Pulmonal pada Penyakit Jantung Katup
Handriyani, Budi Baktijasa
Penyakit jantung rematik
(RHD) terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara berkembang. RHD terjadi akibat gejala sisa dari suatu respon autoimun jaringan jantung terhadap infeksi tenggorokan oleh streptokokus. Manifestasi klinis umum dari RHD sekunder berupa valvulitis kronis yang mengarah pada kelainan katup mitral, aorta, atau trikuspid.
Hipertensi pulmonal (PHT) dikenal sebagai penyulit penyakit katup aorta dan mitral. Hal ini dilaporkan terjadi pada sekitar 70% pasien dengan RHD dan merupakan variabel prognostik yang mempengaruhi perjalanan penyakit (Malouf et al, 2002).
Lihat disini
Penyakit jantung rematik
(RHD) terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara berkembang. RHD terjadi akibat gejala sisa dari suatu respon autoimun jaringan jantung terhadap infeksi tenggorokan oleh streptokokus. Manifestasi klinis umum dari RHD sekunder berupa valvulitis kronis yang mengarah pada kelainan katup mitral, aorta, atau trikuspid. Hipertensi pulmonal (PHT) dikenal sebagai penyulit penyakit katup aorta dan mitral. Hal ini dilaporkan terjadi pada sekitar 70% pasien dengan RHD dan merupakan variabel prognostik yang mempengaruhi perjalanan penyakit (Malouf et al, 2002).
Lihat disini
Langganan:
Postingan (Atom)
Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair
Non Scholae Sad Vitae
