24 Februari 2011

ARITMIA PADA PPOK DAN TATALAKSANANYA


Samsuri, RP. Soeharsohadi

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) mendefinisikan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) sebagai penyakit yang dapat diobati dan dicegah dengan beberapa efek ekstra pulmonal yang memberi kontribusi keparahan penyakit. Perkembangan baru berpendapat bahwa PPOK lebih dari sekedar penyakit paru semata, ada bukti bahwa PPOK merupakan penyakit sistemik dengan berbagai efek pada organ termasuk sistem kardiovaskuler. Relevansi klinis menunjukan bahwa penyebab utama rawat inap dan mortalitas PPOK adalah kardiovaskuler. Beberapa kelainan kardiovaskuler yang terkait dengan PPOK adalah hipertensi pulmonal sekunder, penyakit jantung iskemik, kor pulmonale dan aritmia.

Aritmia supra-ventrikuler dan ventrikuler sering terjadi pada penderita PPOK. Insiden yang dilaporkan sangat bervariasi karena perbedaan populasi penelitian (misalnya, penderita PPOK stabil atau PPOK eksaserbasi akut), ada atau tidaknya kegagalan ventrikel atau penyakit jantung yang mendasari, metode yang digunakan untuk merekam aritmia (elektrokardiogram tunggal atau EKG yang mencatat 24 jam terus menerus), dan obat-obatan yang digunakan dalam managemen terapinya, misal teofilin, digoksin atau agonis beta-adrenergik.

Menurut Buch dkk, aritmia ditemukan sebesar 84% pada penderita PPOK stabil yang rawat jalan, 72% dengan aritmia ventrikuler dan 52% dengan aritmia supra-ventrikuler.4 Fuso dkk mengevaluasi 590 penderita PPOK eksaserbasi akut, mendapatkan bahwa fibrilasi atrium dan aritmia ventrikel merupakan prediktor independen terjadinya kematian, selain usia penderita dan perbedaan tekanan O2 di alveoli dan arteri (AaDO2).

Pembahasan pada makalah ini akan dititikberatkan pada faktor-faktor yang dapat mencetuskan terjadinya aritmia pada penderita PPOK dan penatalaksanaannya.

Naskah selengkapnya disini

ARITMIA PADA KEHAMILAN


Rerdin Julario, Dyah Prihatini

Fisiologi kardiovaskuler wanita hamil akan mengalami perubahan yang dramatis selama kehamilan. Perubahan-perubahan hemodinamik yang terjadi pada kehamilan normal berupa peningkatan cardiac output, volume darah dan penurunan resistensi perifer sesuai dengan umur kehamilan.

Pada kehamilan normal dapat terjadi aritmia namun kejadian ini jarang terjadi. Apabila tidak didapatkan penyakit jantung yang mendasari maka biasanya bersifat ringan dan dapat ditoleransi dengan baik. Meskipun prevalensi penyakit jantung terbatas hanya 0,5 sampai 1,0 persen dari wanita hamil, namun yang terpenting adalah dapatkah terjadi morbiditas dan mortalitas maternal, serta menyebabkan efek yang signifikan pada fetus.

Prevalensi terjadinya aritmia pada kehamilan tidak diketahui dengan pasti. Yang paling sering terjadi adalah atrial ectopy dan ventrikel ectopy sekitar 50-60% dari wanita hamil. Selain itu studi yang terbaru melaporkan terjadinya takikardi supraventrikel selama kehamilan antara 1,5 sampai 3,0 persen pada wanita dengan penyakit jantung. Copeland dan Stern melaporkan bahwa pada wanita hamil yang sehat dapat terjadi blok AV derajat dua tipe I ( Weckenbach) dan dapat juga ditemukan kondisi blok AV total.

Mekanisme terjadinya aritmia selama kehamilan belum diketahui dengan pasti diduga adanya faktor aritmogenik pada kehamilan yang menimbulkan aritmia. Faktor-faktor yang dapat memicu aritmia selama kehamilan dan persalinan, termasuk diantaranya efek elektrofisiologis jantung secara langsung dari hormon, perubahan tonus otonom, gangguan hemodinamik selama kehamilan, hipokalemi dalam kehamilan, dan penyakit jantung yang mendasari.

Penanganan aritmia selama kehamilan harus mempertimbangkan efek samping dari obat-obatan terhadap ibu atau janin yang dikandungnya. Diharapkan terapi antiaritmia yang digunakan tidak menyebabkan komplikasi pada kehamilan dan aman, serta ditoleransi baik oleh janin yang dikandungnya.

Untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang perubahan fisiologik pada sistim kardiovaskuler selama kehamilan, gejala dan tanda yang menyerupai penyakit jantung pada kehamilan yang normal, dan kapan dimulai pemberian obat anti aritmia pada ibu hamil mengingat banyak obat-obat anti aritmia yang berpotensial untuk memberikan efek merugikan baik pada maternal maupun fetal oleh karena obat-obat anti aritmia selalu melewati barrier placenta.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai aritmia yang sering terjadi pada kehamilan, yaitu atrial ectopy, ventrikel ectopy, supraventrikuler takikardia, atrial fibrilasi, dan ventrikel takikardi.

Naskah selengkapnya disini

21 Februari 2011


Segenap anggota Paskal mengucapkan selamat kepada :
Dr. Moh. Yusuf, SpJP, Dr. Ika Krisnawati, SpJP, Dr. M. Yusri, SpJP dan Dr. Umira, SpJP
yang telah lulus sebagai kardiolog baru.

Selamat bekerja di tempat tugas dan sukses.

BERITA DUKA


Innalillahi wa innailaihi roji'un.

Segenap pengurus dan anggota PASKAL
mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya
atas meninggalnya ayahanda dari Dr. Yusri Yusran.
Semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan. Amin.

06 Februari 2011

PERANAN CARDIAC SHOCKWAVE THERAPY (CSWT) PADA PENYAKIT JANTUNG ISKEMIK


Dodit Yutanto, Achmad Lefi

Coronary artery disease (CAD) is recognized as a leading cause of adult mortality worldwide. Current therapies in the treatment of CAD include drug interventions, percutaneous coronary intervention (PCI), coronary artery bypass graft (CABG) surgery, and transmyocardial laser revascularization (TMR). However, these approaches are invasive and often inadequate in the treatment of advanced CAD, and are associated with serious cardiovascular risks and complications. Cardiac shock wave therapy (CSWT) is a novel, noninvasive intervention that can ameliorate myocardial ischemia and improve cardiac function. Early clinical trials showed that CSWT alleviated angina and improved cardiopulmonary fitness in patients with myocardial ischemia. Evidence indicates that CSWT may reduce the ischemic burden and provide angina relief by promoting angiogenesis and revascularization in ischemic myocardium.

Naskah selengkapnya disini

TASYAKURAN


Segenap pengurus dan anggota PASKAL beserta Keluarga Besar Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK Unair - RSU Dr. Soetomo Surabaya mengucapkan TERIMAKASIH yang sebesar-besarnya kepada

Prof. dr. R. Moh. Yogiarto, SpJP (K), FIHA, FASCC

atas pengabdian beliau sebagai Kepala Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK Unair - RSU Dr. Soetomo, sampai tahun 2010.

Dan mengucapkan SELAMAT dan SUKSES kepada

dr. Muh. Aminuddin, SpJP (K), FIHA, FASCC

atas terpilihnya beliau sebagai Kepala Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK Unair - RSU Dr. Soetomo periode 2011-2015.

05 Februari 2011

SEPSIS DAN CARDIOVASCULAR EVENT


Fanty Filianovika, Suharto

Sepsis adalah penyakit yang kompleks dan merupakan manifestasi dari respon kekebalan dan inflamasi terhadap infeksi. Baik melalui eksotoksin maupun komponen struktur mikroba, sepsis menyebabkan pelepasan berbagai mediator inflamasi seperti tumor necrosis factor-α (TNF-α), interleukin-1α (IL-1α), platelet activating factor (PAF), oxygen free radicals, interferon gamma (IFN-γ) dan metabolit asam arakidonat dari sel monosit atau makrofag dan lain-lain. Untuk mempertahankan homeostasis, beberapa mediator antiinflamasi juga dibebaskan. Jika homeostasis tidak dapat dipertahankan, maka terjadi disfungsi progresif dan berurutan dari berbagai sistem organ (Kumar, 2006).

Sistem kardiovaskular adalah salah satu sistem organ penting yang sering terkena dampak oleh sepsis dan selalu terpengaruh oleh syok septik. Salah satu manifestasi disfungsi kardiovaskular yang sering terjadi selama renjatan septik adalah berupa depresi atau disfungsi miokard, dimana berkontribusi pada tingginya morbiditas dan mortalitas khususnya pada pasien-pasien di unit perawatan intensif. Dalam 5 dekade terakhir telah dilaporkan lebih dari 3000 studi klinis mengenai adanya komplikasi kardiovaskular pada sepsis (Hotchkiss, 2003; Kumar, 2006; Sharma, 2007). Adanya disfungsi kardiovaskular pada sepsis menyebabkan peningkatan angka mortalitas yang signifikan dari 70% menjadi 90%, sebaliknya pada pasien sepsis tanpa disertai gangguan kardiovaskular didapatkan hanya sebesar 20% (Merx, 2007).

Sampai saat ini, meskipun beberapa mediator telah terbukti berhubungan dengan depresi miokard, namun penyebab pasti timbulnya disfungsi sistem kardiovaskular terkait sepsis masih belum jelas. Oleh karena itu, studi mengenai disfungsi miokard pada sepsis masih terus menjadi fokus penelitian (Merx 2007). Mengingat beratnya dampak yang ditimbulkan oleh disfungsi kardiovaskular akibat sepsis, maka diperlukan pemahaman yang lebih mendalam baik mengenai mekanisme yang mendasari maupun karakteristik klinis disfungsi miokard terkait sepsis, sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang lebih optimal.


Naskah selengkapnya disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini