03 Mei 2011

HIPERTENSI PADA KEHAMILAN


<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE Dhani Tri Wahyu Nugroho, Dyah Priyatini

Hipertensi merupakan masalah medis yang sering ditemukan pada kehamilan. Prevalensi hipertensi berkisar 10-15% dari seluruh kehamilan di negara maju dan merupakan penyebab penting mortalitas dan morbiditas ibu dan janin.(1) Saat ini penyebab kematian maternal tertinggi antara lain disebabkan oleh hipertensi (16%), perdarahan (13%), abortus (8%), dan sepsis (2%).(2) Ibu hamil dengan hipertensi berpotensi mengalami komplikasi fatal antara lain disseminated intravascular coagulation (DIC), perdarahan otak, gangguan fungsi hati dan gagal ginjal akut. Sedangkan pada janin akan berakibat pertumbuhan janin terhambat, prematuritas, dan mortalitas perinatal. (3)

Klasifikasi Hipertensi pada kehamilan mulai berkembang sejak tahun 1940 oleh American Commitee on Maternal Welfare, yang selanjutnya mengalami banyak perubahan. Klasifikasi NHBPEP tahun 2000 sampai saat ini masih banyak dipakai. Tekanan darah 140/90 mmHg digunakan untuk menentukan diagnosis. (4) Sampai saat ini belum ada batasan yang jelas mengenai target penurunan tekanan darah hipertensi pada kehamilan. Penggunaan obat pada kehamilan menjadi suatu perhatian khusus dikarenakan efek samping yang sering terjadi pada janin. Pemberian obat hipertensi pada hipertensi ringan dan sedang masih menjadi perdebatan karena tidak berpengaruh terhadap tingkat mortalitas perinatal.

Naskah selengkapnya disini

Paten Foramen Ovale : perlu ditutup atau tidak


<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Depri Sumantha, Agus Subagjo

Paten foramen ovale (PFO) merupakan kelainan anatomi yang banyak ditemukan pada populasi umum. Struktur PFO berbentuk sebuah terowongan yang terjadi karena tidak menyatunya septum primum dan septum sekundum interatrium. Panjang terowongan PFO bervariasi antara 3 mm sampai 24 mm dengan ratat rata 9 mm. Prevalensi PFO pada satu bulan setelah bayi lahir sekitar 70 %, seiring dengan waktu PFO akan menutup dikarenakan tekanan di atrium kiri lebih tinggi dari tekanan di atrium kanan. Pada usia dewasa PFO menetap dengan prevalensi 25 – 30 % sedangkan pada penderita stroke yang berusia kurang dari 55 tahun dan tanpa faktor resiko lain prevalensinya lebih tinggi sekitar 40 – 54 % 1.

PFO merupakan faktor resiko terjadinya beberapa sindroma klinis yang disebabkan paradoxical embolism diantaranya stroke iskemik, infark miokard, sindroma dekompresi pada penyelam, emboli paru, migrain dengan aura dan platypnoea orthodeoxic2. Ekhokardiografi berperanan penting tidak hanya sebagai alat diagnosis PFO namun juga untuk monitoring saat tindakan dan paska tindakan percutaneous transcatheter PFO closure. Ukuran diameter PFO yang terlihat dengan ekhokardiografi transesofagus berhubungan erat dengan peningkatan resiko berulangnya stroke demikian juga bila terdapat residual PFO paska penutupan defek maka resiko rekurensi dari stroke meningkat 3.

Penatalaksanaan PFO meliputi terapi farmakologi, penutupan defek dengan menggunakan transcatheter percutaneus closure device, maupun pembedahan. Pemilihan terapi terhadap PFO masih menjadi pembahasan yang panjang, banyak penelitian dilakukan untuk menjawab pertanyaan ini. Penutupan bukan tanpa resiko, terjadinya komplikasi utama seperti kematian, perdarahan, tamponade jantung dan emboli paru yang fatal terjadi pada 1.5 %, dan komplikasi minor berupa aritmia atrium, emboli dari closure device, trombus dari closure device serta terbentuknya fistula atrioventrikuler mencapai 7.9 % 3,4. Kebanyakan karya ilmiah hanya mempertimbangkan penatalaksanan PFO berdasarkan variable kualitatif. Hanya sedikit yang mempertimbangkan implikasi fungsional yang diterjadi dihubungkan dengan anatomi dari PFO. Tinjauan kepustakaan ini mencoba untuk membahas apakah PFO perlu ditutup atau tidak bardasarkan beberapa studi terbaru dan evaluasi antomi PFO dengan menimbang resiko dan keuntungannya 5.

Naskah selengkapnya disini

24 April 2011

AORTIC VALVE REPAIR: Intervensi bedah pada penderita Aorta Stenosis Valvular

Joeristanti Soelistyaningroem, Alit Utamayasa, Mahrus A Rahman, Teddy Ontoseno

Aorta Stenosis (AS) pada anak-anak merupakan kelainan kongenital di daerah left ventricular outflow tract (LVOT) akibat adanya abnormalitas di atas katup aorta (supra valvular), setinggi katup aorta (aortic valve), dan setelah katup aorta (sub valvular). Kelainan ini dapat menyebabkan obstruksi aliran darah dari left ventricle (LV) menuju sirkulasi sistemik, baik itu dari derajat ringan sampai berat .

Insidens AS kongenital terdapat sekitar lebih dari 10% dari seluruh penyakit jantung kongenital, dimana terbanyak adalah valvular stenosis (71%), kemudian subvalvular stenosis (23%), dan supravalvular stenosis (6%).4 Dilaporkan kejadian AS valvular berkisar antara 0,04-0,38 / 1000 kelahiran hidup. Presentasi ini terbanyak pada anak laki-laki, dengan perbandingan laki-laki : perempuan sekitar 4:1.1,2,3 Penyebab tersering AS valvular adalah bikuspid, meskipun pada beberapa penderita diantaranya yang mempunyai trikuspid. Dengan bertambahnya usia kelainan ini menyebabkan kondisi pressure overload pada LV, sehingga mengakibatkan hipertrofi LV dan akan menyebabkan gagal jantung.

Angka kematian tertinggi pada penderita dengan derajat stenosis berat maupun kritikal, biasanya pada usia satu tahun pertama, terutama pada periode neonatal. Angka kematian ini lebih tinggi jika didapatkan kelainan kongenital yang bersamaan (sekitar 20% penderita), misalnya patent ductus arteriosus (PDA), coarctation of the aorta, ventricular septal defect, abnormalitas katup mitral, dan left ventricular hypoplasia. Pada penderita AS yang tidak terdeteksi dapat menyebabkan kematian mendadak, insidens ini terjadi sekitar 1% dari semua penyebab kematian mendadak pada penderita anak-anak dan dewasa muda.

Untuk menegakkan diagnosa kelainan ini, meskipun secara klinis, keluhan klasik dengan temuan fisik yang menyokong dapat menentukan adanya AS valvular, evaluasi ekhokardiografi sebagai pemeriksaan non infasiv masih dianggap sebagai modalitas utama dalam menentukan tingkat keparahan, evaluasi lanjutan dan waktu yang tepat untuk dilakukan tindakan intervensi.

Pada penderita AS valvular ringan biasanya asimtomatis, dan masih belum diperlukan tindakan khusus. Jika kondisi ini semakin memberat dengan bertambahnya usia, atau pada penderita yang sejak lahir didapatkan AS valvular berat / kritikal, maka diperlukan tindakan intervensi baik yang bersifat bedah maupun non bedah (perkutaneus) terhadap kelainan obstruksi ini. Tindakan bedah pada penderita AS valvular dilakukan sejak tahun 1956, dan dipakai sebagai tindakan standart pada penderita dengan AS valvular berat yang tidak dapat dilakukan intervensi perkutan maupun penderita AS kritikal.

Dalam tinjauan kasus ini, akan dibahas seorang anak dengan aorta stenosis valvular berat disertai PDA yang berhasil dilakukan tindakan intervensi bedah

Naskah lengkap disini

21 April 2011

INTERVENSI PERKUTAN PENYAKIT ARTERI PERIFER PADA EKSTREMITAS BAWAH

Zainal Safri, Yudi H. Oktaviono


Peripheral Arterial Disease (PAD) merupakan kondisi yang umum didapati terutama pada laki-laki ataupun perempuan dengan umur lebih dari 50 tahun dan insidennya meningkat sesuai pertambahan umur. Di USA didapatkan sekitar 10 juta orang dengan penyakit ini, dan peningkatan kasus yang menderita PAD terus meningkat.

Claudication intermitten merupakan gejala utama dari PAD pada ekstremitas bawah, gejala lain adalah hilangnya rasa atau kelemahan dari tungkai, luka yang tidak sembuh sembuh di kaki dan perubahan warna ekstremitas. Sekitar 50% pasien asimptomatis. dan terjadi peningkatan gejala setelah 5 - 10 tahun terapi konservatif. Dan 20 % sampai 30% dari pasien tersebut mengalami gejala klinis sangat berat dan membutuhkan terapi intervensi serta 10% diantaranya menjalani amputasi.

Faktor risiko untuk terjadinya PAD adalah merokok, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes, riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau pembuluh darah, obesitas, dan gaya hidup perkotaan. Karena suatu proses aterosklerosis maka pasien-pasien dengan PAD juga beresiko tinggi untuk terjadinya stroke, infark miokard dan kematian akibat kardiovaskular.

Perkembangan Ilmu pengetahuan yang cepat dalam dekade terakhir ini, serta pengalaman operator dalam menangani kasus-kasus yang kompleks makin berkembang maka tindakan terapi endovaskular seperti Percutaneous Transluminal Angioplasty (PTA) dan stenting telah menggantikan terapi pembedahan pada lesi-lesi yang telah direkomendasikan. Keuntungan terapi revaskularisasi endovaskular yang utama adalah rendahnya angka komplikasi dengan angka rata-rata antara 0.5%-4%, dan dengan suatu tehnik yang mutakhir angka keberhasilan mencapai 90% walaupun pada lesi yang panjang.

Tindakan intervensi perkutan pada ekstremitas bawah sekarang ini menjadi pilihan utama pada lesi PAD, mengingat komplikasi yang lebih sedikit, masa rawatan di rumah sakit yang lebih pendek, tidak perlu anestesi umum, di bandingkan dengan tindakan pembedahan

Naskah lengkap disini


19 April 2011

Pengajian Rabu Siang

Petikan tausiyah:
1.Knp manusia diangkat sbg kholifah dimuka bumi? Sesungguhnya Allah mengetahui apa yg tdk kita ketahui, dgn ilmu. Jadi,hanya org berilmu yg dpt mengemban mjd kholifah,tp yg tdk, akan memusnahkan. Tanpa ilmu, manusia hancur.
2. Ilmu yg bermanfaat memberikan kebaikan dunia dan akhirat.
3. Ilmu sbg bekal utk diakhirat, dan jgn lupa ilmu yg berkaitan dgn dunia. STlh mendapat ilmu,berbuat baiklah.
4. ILmu akhirat adalah ilmu al quranul karim. Belajar mencari ilmu yg terkandung dlm al quran dan menyampaikan, mau menyuruh org lain utk berbuat baik dan mencegah kemungkaran, dan disitulah dsebut kholifah.
5. Ilmu dunia, bukti kekuasaan diseluruh alam semesta. Allah memberi sarana dan kemudahan utk mendapat ilmu di dunia termasuk kedokteran dgn tujuan tidak ada Tuhan selain Allah dan dpt menambah keimanan kpd Allah dan dpt meningkatkan derajat org yg berilmu.

12 April 2011

GANGGUAN ELEKTROLIT SERUM DAN ARITMIA JANTUNG PADA POPULASI LANJUT USIA


Romi Ermawan, Dyah Prijatini

Definisi lanjut usia memiliki batasan yang berbeda-beda di setiap negara. Sebagai contoh, negara-negara maju di Eropa maupun Amerika mengambil batasan usia diatas 65 tahun dengan pertimbangan masa pensiun. Namun menurut ketentuan WHO yang dimaksud dengan lanjut usia adalah orang yang berusia diatas 60 tahun.1,2

Menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 1998, usia harapan hidup orang Indonesia adalah 62.6 tahun untuk laki-laki dan 66.7 tahun untuk perempuan. Seiring dengan kemajuan di bidang ekonomi dan kesehatan, diprediksikan usia harapan hidup tersebut akan bertambah dan akan meningkatkan jumlah penduduk yang tergolong lanjut usia.1 Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga pada tahun 1986, penyakit terbanyak yang diderita oleh orang berusia diatas 50 tahun adalah penyakit kardiovaskuler yaitu sebesar 15.7%, diikuti oleh penyakit muskuloskeletal sebesar 14.5% dan tuberkulosis paru sebesar 13.6%.1Tidak hanya itu, menurut data WHO pada tahun 1995, penyakit kardiovaskuler juga merupakan penyebab kematian dan penyebab disabilitas tertinggi pada populasi diatas 60 tahun di seluruh dunia.2,3

Saat lanjut usia, manusia mengalami perubahan-perubahan yang bermakna pada tubuhnya baik secara anatomi maupun fisiologi. Salah satu perubahan yang sering terjadi adalah penurunan kemampuan untuk menjaga keseimbangan air, asam-basa dan elektrolit tubuhnya.4,5,6Di samping itu, insiden terjadinya aritmia jantung juga meningkat. Ini disebabkan karena pengatur irama jantung mulai menurun. Aritmia tersebut ada yang merupakan variasi normal dan ada juga yang patologis serta membutuhkan perhatian khusus. Adapun aritmia yang paling sering terjadi diantaranya adalah sinus takikardia, ekstrasistol supraventrikuler dan ekstrasistol ventrikuler.3,7

Meski berada pada kondisi fisik yang sehat, populasi usia lanjut sudah cukup rentan mengalami aritmia jantung. Resiko aritmia jantung tersebut tentunya akan semakin meningkat jika didapatkan kelainan patologis tertentu. Oleh karena itu pada tinjauan kepustakaan ini akan dibahas gangguan-gangguan elektrolit serum yang sering terjadi pada populasi lanjut usia dan aritmia-aritmia jantung yang ditimbulkan oleh gangguan tersebut.

Naskah selengkapnya disini

JADWAL JAGA APRIL 2011

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini