13 Agustus 2011
Infark Miokard pada Pasien Dewasa Muda
Kejadian Infark Miokard (MI) pada kelompok usia dewasa muda (kurang dari 45 tahun) jarang didapatkan. Beberapa studi menunjukkan hanya sekitar 3,0 % dari semua kasus MI terjadi pada usia dibawah 45 tahun.
Tidak seperti patofisiologi MI pada umumnya, yakni akibat proses atherosklerosis. PJK pada usia muda memiliki beberapa mekanisme patologi lain (non atherosklerotik) yang akan dibahas lebih lanjut. Selain itu, manifestasi klinis yang dimilikinya pun sedikit berbeda dengan manifestasi klinis MI pada umumnya.
Insiden MI pada dewasa muda akhir – akhir ini semakin meningkat. Etiologinya sangat bervariasi. Secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu akibat aterosklerosis dan tanpa aterosklerosis. Diantaranya akibat penggunaan kokain, SLE, HIV – AIDS dan lain – lain.Oleh karena itu etiologi nya harus diidentifikasi dengan benar, oleh karena akan berpengaruh terhadap pemberian manajemen lanjutan.
Naskah lengkap disini
ACUTE LIMB ISCHEMIA DAN CONTRAST INDUCED NEPHROPATHY PADA PENDERITA KARDIOMIOPATI ALKOHOLIK
Peripheral arterial disease (PAD) adalah suatu penyakit obstruksi pembuluh darah yang mengganggu asupan darah ke ekstrimitas. PAD seringkali tidak terdiagnosis dan luput dari penanganan yang optimal terutama dalam hal pengobatan maupun modifikasi faktor resiko. Salah satu manifestasi PAD adalah acute limb ischemia (ALI), yaitu penurunan atau perburukan perfusi yang terjadi kurang dari 14 hari yang menyebabkan ancaman bagi mobilitas dan viabilitas anggota gerak.
Contrast induced nephropathy (CIN) adalah suatu gangguan fungsi ginjal akut dimana terjadi peningkatan nilai kreatinin serum sebesar 0.5 mg/dL atau 25% dari nilai semula pada 48 jam setelah pemberian media kontras tanpa ada penyebab yang lain. Insiden CIN meningkat tajam seiring dengan peningkatan jumlah penggunaan media kontras intravaskuler yang mengandung iodine di bidang kesehatan dengan perkiraan 80 juta liter kontras setiap tahunnya di seluruh dunia.
Pada artikel ini akan dibahas sebuah kasus seorang penderita kardiomiopati alkoholik yang mengalami acute limb ischemia (ALI) dan dalam perjalanannya setelah menjalani suatu prosedur diagnostik penderita tersebut jatuh ke dalam contrast induced nephropathy (CIN).
Naskah lengkap disini
11 Agustus 2011
Exercise Stress Test pada wanita
Depri Sumantha, Budi S. Pikir
Penyakit jantung masih merupakan penyebab kematian pertama pada wanita di Amerika Serikat, lebih banyak wanita yang meninggal karena penyakit jantung dibanding pria. Wanita yang menderita penyakit jantung koroner memiliki prognosis yang lebih buruk di banding pria dengan penyakit yang sama.
Diperlukan evaluasi untuk mendeteksi secara dini penyakit jantung koroner pada wanita serta dapat dilakukan strategi penatalaksanaan yang tepat. Diagnosis penyakit jantung koroner pada wanita cukup sulit. Media diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi penyakit jantung koroner pada wanita memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang lebih rendah dibanding pada pria.
Perkembangan terakhir menyebutkan EST merupakan metode diagnosis yang paling sering digunakan pada untuk mendiagnosis penyakit jantung koroner pada wanita. EST dengan rekaman elektrokardiografi (EKG) merupakan pilihan utama pemeriksaan secara noninvasif yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit jantung koroner.
Guidelines American Heart Association/American College of Cardiology (AHA/ACC) untuk Exercise Testing dan Guidelines tahun 2005 the Role of Noninvasive Testing in the Clinical Evaluation of Women with Suspected Coronary Artery Disease merekomendasikan EST dengan rekaman EKG menjadi pilihan utama diagnostik pada wanita dengan keluhan angina yang memiliki faktor resiko sedang, meskipun hasil rekaman EKG pada saat istirahat normal.
Makalah lengkap disini
EFEK IMUNOMODULATOR STATIN DAN KAITANNYA TERHADAP REDUKSI ATEROSKLEROSIS
Oleh Elok N Artiko/Ari Baskoro
Kejadian Kardiovaskular terkait Penyakit Ginjal Kronis
Oleh Elok N Artiko/Pranawa
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan sindroma klinis yang muncul dikarenakan penurunan fungsi ginjal secara menetap akibat kerusakan nefron. Proses penurunan fungsi ginjal ini berjalan secara kronis dan progresif yang pada akhirnya peasien akan jatuh pada kondisi penyakit ginjal terminal (PGT) atau end-stage renal disease (ESRD) (Wali et al, 2005). Harapan hidup pasien PGT usia 49 tahun diperkirakan 7,1 tahun dibandingkan kanker kolon 8,6 tahun, kanker prostat 12,8 tahun, dan 29,8 tahun pada populasi umum (Johnson et al, 2003).
Angka kematian pasien PGT lebih dari 50% disebabkan oleh penyakit kardiovaskular (PKV). Tingginya angka mortalitas pada pasien PGK menyebab banyak pasien tidak cukup bertahan sebelum jatuh pada keadaan PGT (Keane et al, 2005). Kejadian kardiovaskular sebagai penyebab kematian pada populasi ini adalah infark miokard akut (IMA) dan sudden cardiac death (Wali et al, 2005; Paraskevas et al, 2010).
Pengobatan yang tepat dan efektif penyakit kardiovaskuler pada pasien PGK berpotensi meningkatkan status fungsional dan kelangsungan hidup pasien PGK.
Makalah lengkap dapat dilihat disini
02 Agustus 2011
LONG-TERM OUTCOMES MULTIPLE STENT PACLITAXEL- ELUTING STENT PADA SAPHENOUS VEIN GRAFT
Penyakit jantung koroner menjadi penyakit dengan angka mortalitas dan morbiditas tertinggi di dunia. Sebagian besar penderita tersebut membutuhkan revaskularisasi akibat angina berulang. Percutaneous coronary intervention (PCI) dan Coronary artery bypass graft (CABG) adalah teknik universal yang diterapkan hampir semua pasien. Implantasi aortokoroner saphenous vein grafts (SVG) pertama kali dilakukan oleh oleh Garrets dkk pada tahun 1967 dan sekarang telah dipakai secara luas untuk pintas koroner pada revaskularisasi pembedahan. Kemajuan pembedahan ini mampu efektif untuk pengobatan angina yang membandel dan juga memperbaiki prognosis baik jangka pendek maupun jangka lama penderita penyakit jantung iskemia. Ironisnya, perbaikan yang dramatis ini dapat diperoleh dengan SVG tetapi keuntungan ini tidak bertahan lama karena terjadinya proses ateroseklerosis yang cepat pada SVG. Selama tahun pertama setelah CABG sekitar 15% SVG mengalami pembuntuan, antara 1-6 tahun graft mengalami penyempitan 1-2% pertahun, dan antara 6-10 tahun 4 % pertahun. Sepuluh tahun setelah CABG hanya 60% graft yang patent dan hanya 50% graft yang signifikan tidak mengalami stenosis
Naskah lengkap disini


