13 Oktober 2011

Hipertensi dan Penyakit Ginjal Kronis

Tri Pudy Asmarawati, Budi Baktijasa

Ginjal dan tekanan darah mempunyai suatu hubungan yang unik. Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penyebab sekaligus akibat dari hipertensi, dengan melalui proses yang multifaktorial. Lebih dari 80% pasien PGK mengalami hipertensi, yang didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Hasil uji klinis maupun studi observasional menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik merupakan prediktor kuat terjadinya ESKD oleh berbagai sebab termasuk hipertensi esensial, diabetes, dan glomerulonefritis.
Penatalaksanaan hipertensi pada PGK selain bertujuan untuk menurunkan tekanan darah juga untuk mencegah perburukan fungsi ginjal. Kebanyakan pasien dengan hipertensi dan PGK akan memerlukan antihipertensi multipel untuk mencapai target tekanan darah sesuai rekomendasi. Proteinuria adalah faktor resiko penting pada PGK sehingga penurunan proteinuria merupakan tujuan penting lainnya yang perlu dicapai pada penatalaksanaan hipertensi dan PGK.

Lihat disini

10 Oktober 2011

Proteksi Miocardium selama IMA : Apa yang kita lakukan?

Lima Peni, Iswanto Pratanu

Prinsip pengobatan dan penatalaksanaan IMA adalah menyelamatkan miokardium sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sependek-pendeknya, oleh karena miokardium tidak dapat mengalami regenerasi menjadi miokard yang berfungsi aktif kontraktif setelah mengalami nekrosis. Proteksi miokardrium (Myocardial protection) adalah usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya nekrosis pada miokardium yang mengalami iskemia. Secara umum dari bukti klinis yang ada, memperbaiki aliran darah arteri koroner yang mengalami oklusi segera setelah.
Selain revaskularisasi, pemberian terapi adjuvant terhadap IMA terbukti bermanfaat untuk mencegah nekrosis. Beberapa studi eksperimental membuktikan manfaat terapi ajuvant pada IMA. Beberapa terapi ajuvant berfungsi untuk mencegah proses trombosis dan reoklusi, mengurangi kebutuhan oksigen miokardium, serta mengurangi injuri reperfusi.
Berdasarkan beberapa studi PCI terbukti lebih superior dibandingkan trombolitik. Akan tetapi keterbatasan sarana kateterisasi serta beberapa studi membuktikan manfaat trombolitik sebagai pilihan terapi awal reperfusi. Sehingga keduanya merupakan standart terapi IMA pada saat ini.

Lihat disini

CORONARY STENT Past, Present and Future

Gusti Rifansyah, R. Mohammad Yogiarto

Mekanisme yang mendasari terjadinya berbagai gambaran klinis penyakit jantung koroner adalah terjadinya iskemia miokard akibat plak ateroma pada arteria koronaria. Ateroma tersebut menyebabkan stenosis, yang makin lama makin memberat. Manifestasi klinis iskemia miokard akan muncul bila stenosis sudah mencapai 60% atau lebih. Iskemia miokard biasanya dirasakan oleh penderita sebagai nyeri yang khas yang disebut angina pektoris.
Guna menekan angka kesakitan maupun kematian akibat penyakit jantung koroner tersebut telah dikembangkan terapi farmakologis dan non farmakologis (invasif). Teknik invasif guna revaskularisasi miokard pada penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner (PJK) dapat berupa bedah pintas arteri koroner (coronary artery bypass graft/CABG) atau tindakan kateterisasi.
Tindakan kateterisasi berupa percutaneous transluminal coronary angioplasty/PTCA baru pertama kali dilakukan pada September 1977 oleh seorang ahli radiologi berkebangsaan Swiss bernama Andreas Gruenzig. Semenjak itu PTCA terus mengalami perkembangan sampai dengan ditemukannya teknologi stent intrakoroner untuk mengurangi kekurangan-kekurangan metode revaskularisasi dengan balon (PTCA). Stent adalah suatu perancah metal yang dikembangkan di dalam segment arteri koroner yang mengalami penyempitan guna menjaga lebar patensi pembuluh darah yang mengalami gangguan tersebut.

Lihat disini

08 Oktober 2011

Fistula Arteri Koroner dengan Drainase Menuju Arteri Pulmonal

Yusra Pintaningrum, Bambang Herwanto
Fistula arteri koroner (coronary
artery fistula / CAF) merupakan suatu abnormalitas hubungan prekapiler antara arteri koroner dan struktur disekitarnya seperti atrium kanan, ventrikel kanan, arteri pulmonal, vena kava superior atau sinus koronarius. Laporan post mortem CAF pertama kali dideskripsikan oleh Krause pada tahun 1865. Insidennya berkisar antara 0,1% sampai 0,2% pada studi angiografi koroner di Turki dan frekuensinya antara 0,27% sampai 0,4% dari semua lesi kongenital jantung. Walaupun CAF berasal dari tiga arteri koroner mayor, termasuk cabang left main, umumnya CAF berasal dari arteri koroner kanan (right coronary artery/RCA) atau left anterior descending (LAD)
Sedangkan left circumflex (LCX) jarang terjadi CAF. Pada dekade kedua abad ke-19, Trevor mendeskripsikan temuan postmortem pada kasus fistula koroner kanan - ventrikel kanan. Pada tahun 1958, Munkner dan kolega mendeskripsikan aneurisma arteri koroner kongenital yang berkaitan dengan CAF.

Lihat disini

01 Oktober 2011

Operasi Penggantian Katup Mitral pada Mitral Regurgitasi Akibat Myxoma Atrium Kiri

Priscilia Myriarda, Agus Subagjo

Tumor primer pada jantung secara keseluruhan sangat jarang terjadi. Biasanya ditemukan pada saat otopsi sebanyak 0.001-0.28%. Hampir 75% dari kasus tumor primer jantung bersifat jinak yaitu Myxoma. Frekuensi terjadinya Myxoma meningkat pada usia dekade 3 sampai 6. Angka kejadian pada wanita 2 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Lebih dari 90% kasus Myxoma terjadi di atrium kiri dimana biasanya melekat pada septum atrium atau dekat dengan fosa ovalis.
Tumor primer jantung bisa asimptomatis. 12% kasus ditemukan secara tidak sengaja pada saat pemeriksaan kesehatan biasa. Gejala dan tanda yang sering muncul yaitu gagal jantung, hipertensi pulmonal akibat obstruksi ruang jantung, emboli sistemik di otak dan perifer. Mitral regurgitasi jarang terjadi pada pasien dengan myxoma atrium kiri. Berdasarkan pengamatan Keeling dan kawan-kawan (2002) dari 49 kasus myxoma jantung yang dioperasi selama 24 tahun, hanya ditemukan 1 kasus (2,7%) yang mengalami komplikasi mitral regurgitasi (prolaps katup mitral).

Lihat disini

FENOMENA “NO REFLOW” TINDAKAN INTERVENSI KORONER PERKUTAN PADA SEORANG PENDERITA RECENT INFARK MIOKARD

Gusti Rifansyah, Iswanto Pratanu

Fenomena “no reflow” didefinisikan sebagai perfusi miokard yang kurang memadai pada segmen tertentu sirkulasi koroner tanpa adanya bukti angiografik terjadinya obstruksi mekanik pembuluh darah. Penurunan aliran darah antegrade epikardial dapat terjadi selama intervensi koroner perkutan (PCI), meskipun tanpa obstruksi mekanik, seperti pada diseksi atau embolisasi distal.

Istilah “no reflow” pertama kali digunakan oleh Majno dan rekan tahun 1967 pada kondisi iskemia otak. Fenomena ini awalnya dijelaskan oleh Krug dan rekan selama infark miokard yang diinduksi pada anjing pada tahun 1966 dan sekali lagi oleh Kloner dan rekan pada tahun 1974 di mana fenomena ini terjadi setelah oklusi temporer arteri koroner epikardial selama 90 menit.

Lihat disini

PENANGANAN INTERVENSI KORONER PERKUTAN PADA PENDERITA UNPROTECTED LEFT MAIN CORONARY ARTERY DENGAN TEHNIK SINGLE STENT CROSSOVER

Infan Ketaren, Iswanto Pratanu

Pembedahan CABG masih merupakan standar penanganan dari penyakit LMCA, sementara itu intervensi koroner telah dikontraindikasikan karena hasil yang inferior setelah penggunaan balloon angioplasty dan bare metal stenting (BMS). Tetapi data terbaru memperlihatkan bahwa drug-eluting stenting (DES) dari unprotected left main coronary artery (ULMCA) merupakan suatu alternatif terhadap operasi CABG. Keterbatasan yang utama dari DES pada ULMCA adalah restenosis, khususnya lesi bifurkasio distal, dan trombosis stent yang dapat menyebabkan konsekuensi katastropik, termasuk kematian mendadak. Kemajuan terkini dalam tehnik intervensi dan farmakologi telah menantang pemikiran konvensional bahwa stenosis LMCA yang signifikan hanya dapat dilakukan pembedahan. Pengenalan stenting koroner telah mengevaluasi ulang terhadap peran PCI sebagai pilihan terapi pada penyakit LMCA, dan adanya ketersediaan DES yang luas, bersamaan dengan peningkatan tehnik stenting dan peralatannya, termasuk pencitraan intravascular ultrasound (IVUS) dan antiplatelet yang efektif menyebabkan peningkatan penggunaan PCI disamping CABG pada pasien dengan penyakit LMCA.

Lihat disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini