17 Oktober 2011

KELAINAN SISTEM KARDIOVASKULAR PADA KONDISI HIPOTIROID

Ach. Syaiful Ludfi Ahmad Lefi

Hormon tiroid memiliki berbagai efek pada sistem kardiovaskular, baik hipertiroidisme dan hipotiroidisme dapat menyebabkan suatu penyakit kardiovaskular. Hipertiroidisme akan menyebabkan suatu kondisi hiperdinamik pada kardiovaskular seperti detak jantung yang semakin cepat, peningkatan kontraksi dan relaksasi pada ventrikel kiri, dan atrial fibrilasi. Hipotiroidisme dapat menyebabkan perubahan kardiovaskular yang sebaliknya, dan berhubungan dengan suatu peningkatan resiko aterosklerosis dan penyakit jantung iskemik. Kegagalan fungsi tiroid yang simptomatis terjadi pada sekitar 1-2% penduduk dan cenderung lebih banyak pada wanita. Kondisi ini bisa terjadi karena terapi dengan radioiodine atau pembedahan pada penyakit Graves, atau karena penyakit autoimun yang menyebabkan atrofi kelenjar tiroid, atau tiroiditis Hashimoto yang ditandai dengan pembesaran tiroid yang difus.

Lihat disini

16 Oktober 2011

GUIDEWIRE PADA TINDAKAN ANGIOPLASTY KORONER

Gusti Rifansyah, Yudi Her Oktaviono

Teknik invasif guna revaskularisasi miokard pada penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner (PJK) dapat berupa bedah pintas arteri koroner (coronary artery bypass graft/CABG) atau tindakan kateterisasi. Bedah pintas arteri koroner telah lebih dulu dikenal dalam penatalaksaan Penyakit Jantung Koroner (PJK) yaitu sejak tahun 1968. Sementara itu sebagai salah satu modalitas terapi, tindakan kateterisasi berupa percutaneous transluminal coronary angioplasty/PTCA baru pertama kali dilakukan pada September 1977 oleh seorang ahli radiologi berkebangsaan Swiss bernama Andreas Gruenzig. Pada saat dilakukannya tindakan Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA), akan dimasukkan stent dengan bantuan kawat penuntun koroner (coronary guidewire/GW) ke arteri yang mengalami sumbatan. GW adalah kawat yang dirancang khusus untuk tindakan angioplasty guna memasukkan dan menempatkan kateter balon ataupun perangkat lainnya di dalam pembuluh darah koroner. Kawat ini mempermudah pengaturan perangkat intervensi lainnya serta dapat pula berfungsi sebagai alat pengukur.

Lihat disini

15 Oktober 2011

Peran Intraoperatif Transesofageal Ekokardiografi Pada Operasi Katup Mitral

Meity Ardiana, Budi. S. Pikir

Intraoperatif TEE pada operasi katup menurut American Society of anestesi (ASA) dan Society of Cardiovascular Anesthesiologists (SCA) Task tidak digunakan rutin diindikasikan kelas II. Sedangkan menurut American College of Cardiology / American Heart Association (ACC / AHA) Task Force, update pada tahun 2003 menjelaskan intraoperatif TEE pada penggantian katup diindikasi kelas II. Menurut Lambert dan rekan, TEE dapat mengevaluasi struktur dan mobilitas daun katup, komisura, annulus, apparatus subvalvular, ukuran ventrikel serta derajat dan arah jet regurgitasi mitral dengan akurasi antara 70% sampai 97%.
Benson dan Cahalan mengatakan TEE intraoperatif , menghematan US$ 450 pada perbaikan katup mitral, tetapi pada penggantian katup didapatkan biaya tambahan US$ 150. Ionescu dan rekan menyimpulkan intraoperatif TEE efektif pada operasi penggantian katup, jika diberikan tanpa biaya besar, karena efek samping yang minim (komplikasi pra operasi 3 pasien dan komplikasi pasca operasi 2 pasien di antara 300 pasien). Studi terbaru oleh Fanshawe, melaporkan perubahan prosedur operasi pada 24 kasus dari 430 pasien karena hasil pemeriksaan TEE intraoperatif. Lima kasus penyakit katup mitral, 1 kasus katup tricuspid dan 18 kasus paten foramen ovale diidentifikasi saat operasi. Mengingat pentingnya peran intraoperatif TEE operasi katup mitral, kami akan membahasnya dalam tinjauan pustaka ini.

Lihat disini

13 Oktober 2011

Hipertensi dan Penyakit Ginjal Kronis

Tri Pudy Asmarawati, Budi Baktijasa

Ginjal dan tekanan darah mempunyai suatu hubungan yang unik. Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penyebab sekaligus akibat dari hipertensi, dengan melalui proses yang multifaktorial. Lebih dari 80% pasien PGK mengalami hipertensi, yang didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Hasil uji klinis maupun studi observasional menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik merupakan prediktor kuat terjadinya ESKD oleh berbagai sebab termasuk hipertensi esensial, diabetes, dan glomerulonefritis.
Penatalaksanaan hipertensi pada PGK selain bertujuan untuk menurunkan tekanan darah juga untuk mencegah perburukan fungsi ginjal. Kebanyakan pasien dengan hipertensi dan PGK akan memerlukan antihipertensi multipel untuk mencapai target tekanan darah sesuai rekomendasi. Proteinuria adalah faktor resiko penting pada PGK sehingga penurunan proteinuria merupakan tujuan penting lainnya yang perlu dicapai pada penatalaksanaan hipertensi dan PGK.

Lihat disini

10 Oktober 2011

Proteksi Miocardium selama IMA : Apa yang kita lakukan?

Lima Peni, Iswanto Pratanu

Prinsip pengobatan dan penatalaksanaan IMA adalah menyelamatkan miokardium sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sependek-pendeknya, oleh karena miokardium tidak dapat mengalami regenerasi menjadi miokard yang berfungsi aktif kontraktif setelah mengalami nekrosis. Proteksi miokardrium (Myocardial protection) adalah usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya nekrosis pada miokardium yang mengalami iskemia. Secara umum dari bukti klinis yang ada, memperbaiki aliran darah arteri koroner yang mengalami oklusi segera setelah.
Selain revaskularisasi, pemberian terapi adjuvant terhadap IMA terbukti bermanfaat untuk mencegah nekrosis. Beberapa studi eksperimental membuktikan manfaat terapi ajuvant pada IMA. Beberapa terapi ajuvant berfungsi untuk mencegah proses trombosis dan reoklusi, mengurangi kebutuhan oksigen miokardium, serta mengurangi injuri reperfusi.
Berdasarkan beberapa studi PCI terbukti lebih superior dibandingkan trombolitik. Akan tetapi keterbatasan sarana kateterisasi serta beberapa studi membuktikan manfaat trombolitik sebagai pilihan terapi awal reperfusi. Sehingga keduanya merupakan standart terapi IMA pada saat ini.

Lihat disini

CORONARY STENT Past, Present and Future

Gusti Rifansyah, R. Mohammad Yogiarto

Mekanisme yang mendasari terjadinya berbagai gambaran klinis penyakit jantung koroner adalah terjadinya iskemia miokard akibat plak ateroma pada arteria koronaria. Ateroma tersebut menyebabkan stenosis, yang makin lama makin memberat. Manifestasi klinis iskemia miokard akan muncul bila stenosis sudah mencapai 60% atau lebih. Iskemia miokard biasanya dirasakan oleh penderita sebagai nyeri yang khas yang disebut angina pektoris.
Guna menekan angka kesakitan maupun kematian akibat penyakit jantung koroner tersebut telah dikembangkan terapi farmakologis dan non farmakologis (invasif). Teknik invasif guna revaskularisasi miokard pada penatalaksanaan Penyakit Jantung Koroner (PJK) dapat berupa bedah pintas arteri koroner (coronary artery bypass graft/CABG) atau tindakan kateterisasi.
Tindakan kateterisasi berupa percutaneous transluminal coronary angioplasty/PTCA baru pertama kali dilakukan pada September 1977 oleh seorang ahli radiologi berkebangsaan Swiss bernama Andreas Gruenzig. Semenjak itu PTCA terus mengalami perkembangan sampai dengan ditemukannya teknologi stent intrakoroner untuk mengurangi kekurangan-kekurangan metode revaskularisasi dengan balon (PTCA). Stent adalah suatu perancah metal yang dikembangkan di dalam segment arteri koroner yang mengalami penyempitan guna menjaga lebar patensi pembuluh darah yang mengalami gangguan tersebut.

Lihat disini

08 Oktober 2011

Fistula Arteri Koroner dengan Drainase Menuju Arteri Pulmonal

Yusra Pintaningrum, Bambang Herwanto
Fistula arteri koroner (coronary
artery fistula / CAF) merupakan suatu abnormalitas hubungan prekapiler antara arteri koroner dan struktur disekitarnya seperti atrium kanan, ventrikel kanan, arteri pulmonal, vena kava superior atau sinus koronarius. Laporan post mortem CAF pertama kali dideskripsikan oleh Krause pada tahun 1865. Insidennya berkisar antara 0,1% sampai 0,2% pada studi angiografi koroner di Turki dan frekuensinya antara 0,27% sampai 0,4% dari semua lesi kongenital jantung. Walaupun CAF berasal dari tiga arteri koroner mayor, termasuk cabang left main, umumnya CAF berasal dari arteri koroner kanan (right coronary artery/RCA) atau left anterior descending (LAD)
Sedangkan left circumflex (LCX) jarang terjadi CAF. Pada dekade kedua abad ke-19, Trevor mendeskripsikan temuan postmortem pada kasus fistula koroner kanan - ventrikel kanan. Pada tahun 1958, Munkner dan kolega mendeskripsikan aneurisma arteri koroner kongenital yang berkaitan dengan CAF.

Lihat disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini