27 Agustus 2008

Selamat datang Karya Paguyuban…….…

Aktifitas yang begitu padat baik dalam bekerja dan belajar bagi Peserta Pendidikan Dokter Spesialis sering lewat begitu saja karena hanyut dalam rutinitas harian. Tanpa bekas, hanya ada kenangan. Ada input aktifitas, perlu feed back. Untuk berkembang ke depan, banyak jalan menuju lebih baik, namun harus ada arah yang dipilih. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari ini.
Kemajuan teknologi informasi telah membawa perubahan dalam peradaban kehidupan manusia saat ini termasuk sangat dirasakan dalam dunia pendidikan. Dari level elementer mulai SD kelas 1 ada BSE (Buku Sekolah Elektronik) hingga perkembangan e Library di berbagai pendidikan tinggi. Tak ketinggalan dunia pelayanan kesehatan hingga forum-forum non formal kecil lainnya telah menggunakan perangkat teknologi komunikasi dan informasi.
PASKAL sebagai paguyubannya para Peserta Pendidikan Dokter Spesialis Jantung Fakultas Kedokteran Unair tentunya tidak lepas dari berbagai aktifitas mulai yang bernuansa akademik, kekeluargaan, kerohanian maupun aktifitas individu dan sosial lainnya. Sungguh keberadaan wadah yang bisa merekam, menyalurkan dan menampung semua aktifitas untuk kepentingan sendiri, orang lain, saat ini dan masa mendatang sangatlah urgen. Belum lagi, benefit dapat melakukan interaksi dan komunikasi dengan berbagai pihak yang tentu akan memberikan peluang dan kesempatan kerjasama yang lebih baik. Jargon kekinian mengatakan siapa yang menguasai informasi dialah akan menguasai dunia.
Menatap ke depan, sayap berkepak siap terbang, menjelajah dan menjawab tantangan saat ini dan masa depan. Mengawali itikad untuk menjadi lebih baik, setitik karya yang masih menuntut pengembangan yang masih luas dan panjang. Pasti banyak kelemahan, kekurangan dan ketidaksempurnaan sehingga diperlukan kerja keras,kesabaran dan konsistensi. Namun segala impian akan segera menjadi kenyataan dengan kebersamaan dan saling mengisi. Semoga ketersediaan sarana teknologi informasi - komunikasi berupa website atau blog paguyuban asisten kardiologi Airlangga, Surabaya bisa bermanfaat dan memberi nilai tambah …… Semoga !

Selamat....dok !!??

Segenap pengurus dan anggota Paguyuban Asisten Kardiologi Airlangga (PASKAL) mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Dr. Mohammad Aminudin, SpJP (K) FIHA sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Surabaya. Semoga PERKI Surabaya semakin jaya.....

PROGRAM KERJA DEPARTEMEN KARDIOLOGI DAN KEDOKTERAN VASKULAR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA TAHUN 2008 - 2010

Pengangkatan Ketua dan Sekretaris Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Airlangga Nomor : 10278/J03/HK/2007, 13 Desember 2007 Tentang Pengangkatan Ketua dan Sekretaris Departemen FK Unair Periode 2008-2010.

Program Kerja Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular tahun 2008 – 2010 mengacu pada beberapa hal sebagai berikut :
1. Visi dan Misi Universitas Airlangga-BHMN.
2. Rumusan Hasil Rapat Kerja Pimpinan Universitas Airlangga-BHMN, tanggal 29-30 Januari 2008.
3. Program Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
4. Realitas Kondisi Internal yang ada pada Departemen Ilmu Penyakit Jantung

Program kerja Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular tahun 2008 – 2010 disusun dalam sistem matrix untuk setiap tahunnya, disertai target pencapaian program dalam bentuk prosentase. Pada dasarnya Program Kerja tahun 2008 identik dengan Program Kerja tahun 2010, yang membedakan keduanya adalah prosentase pencapaian program. Evaluasi prosentase pencapaian program dilaksanakan nanti pada setiap akhir tahun berjalan. Prosentase pencapaian program 100% menunjukan bahwa program tersebut telah berjalan sepenuhnya pada tahun 2008. Selain itu pada Program Kerja ini, disertakan pula Struktur Organisasi Departemen.
Naskah lengkap disini

26 Agustus 2008

SICILIAN GAMBIT SUATU PENDEKATAN ALTERNATIF DALAM PENGKLASIFIKASIAN OBAT-OBATAN ANTI-ARITMIA

Saskia D Handari, Budi Baktijasa

Sebelum tahun 1960-an, pengklasifikasian obat-obatan anti-aritmia (OAA) belum menjadi perhatian para ahli karena kurangnya OAA yang tersedia pada saat itu. Hingga pada tahun 1950-an, misalnya, hanya ada dua jenis OAA yang tersedia yakni quinidine (diperkenalkan oleh Walter Frey pada tahun 1918) dan procainamide (ditemukan oleh Mark tahun 1951). Jenis OAA mulai bertambah jumlahnya pada tahun 1950 ketika Southworth memperkenalkan lidocaine dan ketika Harris-Kokernot menemukan efek anti-aritmia diphenylhidantoin. Selanjutnya Vaughan William pada tahun 1963 memperkenalkan obat pronethanol, suatu jenis obat beta-adrenergic receptor blocker yang memiliki efek anti-aritmia. Dengan makin bertambahnya jumlah OAA, para ahlipun mulai merasa pentingnya suatu pengklasifikasian, yang diharapkan dapat mempermudah pemahaman dan penggunaan obat-obatan anti-aritmia.1,2

Pada tahun 1970-an diperkenalkan dua sistem pengklasifikasian OAA, yakni yang dikembangkan oleh Singh dan Vaughan William (1970) dan oleh Hoffman dan Bigger (1971). Singh-Vaughan William mengkategorikan OAA atas empat kelas berdasar kerja elektrofisiologinya, yakni kelas-kelas I (sodium-channel blocker), II (beta-adrenergic receptor blockers), III (outward potassium conductance blockers) dan IV (calcium channel blockers). Sedangkan Hofman dan Bigger membagi OAA atas dua kelas, yakni obat-obatan yang bekerja mengurangi Vmax serta menekan eksitasi otot jantung (seperti quinidine dan procainamide) dan obat-obatan yang bekerja tanpa mengurangi Vmax dan tidak menghambat eksitasi otot-otot jantung. Dalam perjalanan selanjutnya, sistem klassifikasi Vaughan William lebih banyak digunakan, meskipun sebenarnya sistem ini juga mengadopsi dasar klasifikasi dari Hofman-Bigger dan ahli-ahli yang lain. Tahun 1974, misalnya, Singh memasukan konsep Hofman-Bigger kedalam sistem Singh-Vaughan William dan karenanya membagi kelas I klasifikasi Singh-Vaughan William menjadi sub-kelas Ia (obat yang mengurangi Vmax dan memperpanjang repolarisasi) dan Ib (obat yang mengurangi Vmax dan memperpendek repolarisasi). Harrison (1981) kemudian menambah sub-kelas Ic (obat yang mengurangi Vmax dan tidak mempengaruhi repolarisasi) untuk melengkapi klasifikasi Vaughan William. 1,2 Karena itu, klasifikasi Singh-Vaughan William yang ada saat ini bukan semata-mata didasarkan pada klassifikasi Singh-Vaughan William, namun hakekatnya merupakan kombinasi ide dari ahli-ahli lainnya. Karena itu pulalah, beberapa ahli menyebut klasifikasi Vaughan William ini sebagai klasifikasi Singh-Hauswirth-Harrison-Vaughan William (S-H-H-VH).3

Naskah lengkap disini

Slide disini

23 Agustus 2008

Kardiologi pediatri


Sambil tambah wawasan tentang Kardiologi Pediatri nggak salahkan kalo mejeng sejenak..cheerrrssss !!!???

22 Agustus 2008

NESIRITIDE INTRAVENA, SUATU PEPTIDA NATRIURETIK UNTUK TERAPI GAGAL JANTUNG AKUT

Andrianto, R. Moh. Yogiarto
Gagal jantung merupakan salah satu masalah kesehatan di masyarakat yang penting. Saat ini, di Amerika Utara dan Eropa terdapat lebih dari 15 juta pasien dengan gagal jantung dan setiap tahun terjadi hampir 1,5 juta kasus baru. Gagal jantung merupakan penyebab tersering perawatan di rumah sakit pada populasi berusia lebih dari 65 tahun (Weibel, 2002; Mueller, 2004). Di seluruh Indonesia, secara epidemiologis diperkirakan jumlah pasien akan bertambah setiap tahunnya.
Gagal jantung akut memiliki prognosis yang jelek. Pasien gagal jantung dengan NYHA Functional Class IV memiliki angka mortalitas 40-50 % per tahun. Kematian mendadak dengan kemungkinan penyebab suatu aritmia ventrikel sering terjadi yaitu sebesar 20-50 % pasien. Sedangkan angka rehospitalisasi dengan frekwensi 1 kali atau lebih selama 12 bulan sebesar 45%.
Di negara-negara Eropa, penanganan gagal jantung menghabiskan 1-2% dari total biaya pemeliharan kesehatan masyarakat, di mana 75% dari biaya penanganan gagal jantung tersebut digunakan untuk biaya perawatan di rumah sakit. Diperkirakan biaya perawatan di rumah sakit untuk pasien-pasien gagal jantung akut setiap tahunnya mencapai 12,7 milyar dollar AS.
Gagal jantung akut dekompensata sering dipandang hanya sebagai kelainan volume overload dan cardiac output yang rendah. Strategi penanganan yang ditujukan untuk memaksimalkan cardiac output ternyata menghasilkan peningkatan angka mortalitas, sedang diuretik sebagai monoterapi berakibat pada peningkatan systemic vascular resistance (SVR) dan aktivasi refleks neuroendokrin.
Saat ini, diketahui bahwa gagal jantung akut ditandai dengan peningkatan left ventricular (LV) filling pressure yang mencerminkan adanya kombinasi antara peningkatan SVR dengan fungsi sistolik dan diastolik yang terganggu. Kenyataan ini telah menggeser penanganan gagal jantung akut dengan fokus pada diuretik sebagai monoterapi dan atau inotropik intravena ke arah penggunaan peptida natriuretik dan vasodilator dikombinasi dengan diuretik.
Naskah lengkap disini

Inferior Vena Cava Filter on Lower Limb Deep Vein Thrombosis

Andrianto, Yudi Her Oktaviono
Trombosis vena profunda dan emboli pulmonal merupakan dua hal dari satu rangkaian proses penyakit. Trombosis vena profunda tungkai bawah menjadi penyebab lebih dari 90% kasus emboli pulmonal, namun hanya sekitar 10% kasus tersebut tampak secara klinis. Komplikasi paling berat dari penyakit tromboemboli vena adalah emboli pulmonal. 8,16
Trombosis vena profunda paling sering terjadi pada tungkai bawah dan dapat pula timbul hanya pada vena tungkai atas atau pelvis. Culprit veins yang sering terlibat pada kejadian emboli pulmonal yang bermakna secara klinis adalah cephalad sampai dengan trifurkasio. 16
Emboli pulmonal akan menimbulkan simtom bila emboli berukuran besar, dan bila emboli berdiameter lebih dari 7,5 mm dapat berakibat fatal. Perawatan di rumah sakit diperlukan bagi pasien dengan emboli pulmonal. Di Amerika Serikat, setiap tahun didiagnosis 355.000 pasien dengan emboli pulmonal, dan sebanyak 240.000 diantaranya meninggal. Emboli pulmonal menempati urutan ketiga sebagai penyebab tersering kematian mendadak penyakit kardiovaskular. 8
Antikoagulan sistemik dengan heparin intravena dilanjutkan dengan warfarin oral masih menjadi modalitas utama pengobatan trombosis vena profunda dan pencegahan terjadinya emboli pulmonal. Penggunaan heparin merupakan tonggak revolusi pengobatan emboli pulmonal dengan menurunkan risiko emboli pulmonal yang fatal hingga 75% dan menurunkan risiko kekambuhan terjadinya emboli pulmonal dari 25 % menjadi 2%. 8, 16
Meskipun demikian, terdapat beberapa laporan bahwa sekitar 33% pasien dengan emboli pulmonal kambuh dengan terapi antikoagulan yang telah diberikan secara adekuat. Terapi antikoagulan berkaitan pula dengan risiko perdarahan, sehingga perlu dihindari pemakaian pada pasien dengan resiko gagal terapi yang tinggi, yaitu meliputi pasien dengan stroke perdarahan, metastasis sistem saraf pusat atau kelainan perdarahan. Heparin dapat dipakai selama kehamilan namun warfarin memiliki efek samping bemakna pada perkembangan janin karena warfarin dapat menembus plasenta.
Naskah lengkap disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini