21 April 2009

TERAPI TROMBOLITIK PADA EMBOLI PARU

Riana Handayani, Iswanto Pratanu

Venous Thromboembolism (VTE), meliputi Deep Vein Thrombosis (DVT) and Pulmonary Embolism (PE) adalah penyakit vaskular tersering setelah penyakit jantung koroner dan stroke. Diperkirakan 45.000 pasien di Kanada terdiagnosa sebagai DVT. Lima puluh hingga 60% pasien DVT akan mengalami PE dimana setengahnya asimtomatik. Hampir 70% pasien dengan gejala PE akan ditemukan DVT jika dilakukan evaluasi. Faktor-faktor resiko terjadinya PE ádalah juga faktor resiko DVT yaitu stasis vena, perlukaan pada dinding pembuluh darah, dan hiperkoaguabilitas.

Sekitar 90% PE berasal dari trombus pada ekstremitas bawah. Suatu studi prospektif menemukan bahwa 82% pasien yang secara angiografi terbukti PE, secara venografi juga terbukti DVT. Pasien-pasien dengan PE masif, DVT hanya teridentifikasi secara klinis hanya 50%. Kira-kira 45% DVT pada vena iliaca dan vena femoralis dapat lepas menjadi emboli hingga ke arteri pulmonalis.

PE mempunyai potensi komplikasi yang fatal dan serius akibat pembentukan trombus didalam sirkulasi vena. Sampai saat ini PE tetap memberikan tantangan tersendiri kepada klinisi baik dalam hal profilaxis, modalitas diagnostik maupun pemilihan terapi. Di Amerika Serikat diperkirakan PE terjadi pada lebih dari 600.000 pasien dan menyumbang 50.000-200.000 kematian. Bahkan diperkirakan PE menyumbang 15% kematian di rumah sakit.

Diagnosis PE sering terlewati oleh karena gejala-gejala dan tanda-tandanya yang tidak khas. Sebagian besar pasien akan meninggal dan sepertiga diantara pasien yang masih bertahan hidup akan meninggal oleh karena episode serangan berikutnya. Pada penderita yang masih bertahan hidup emboli ulangan dan kematian dapat dicegah dengan diagnosa dan terapi yang tepat. Penanganan penderita PE memerlukan pendekatan diagnostik yang sistematik dengan memperhatikan faktor-faktor resiko sehingga terapi preventif dapat diberikan.

Studi-studi membandingkan terapi trombolitik dengan heparin pada PE masif dan submassif menunjukkan resolusi bekuan yang cepat pada pasien yang mendapat terapi trombolitik. Penurunan angka mortalitas terjadi pada pasien PE masif seiring dengan terapi trombolitik terjadi perbaikan hemodinamik, fungsi ventrikel kanan, perfusi pulmonar dan penurunan resiko rekurensi tromboemboli.

Berikut adalah kasus seorang wanita dengan PE dan DVT yang mendapat terapi trombolitik.

Naskah lengkap dapat dibaca disini.

Tidak ada komentar:

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini