24 Agustus 2010

SHOLAT TARAWIH BERSAMA



Paskalers yang terhormat,

Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam-Jantung-Paru mengadakan sholat tarawih bersama dan ceramah agama, yang akan dilaksanakan pada :


Hari : Minggu, 29 Agustus 2010

Waktu : pukul 19.00 WIB
Tempat : Kediaman Prof. Dr. Rochmad Romdoni, SpPD, SpJP, FIHA

Jl. Dharmahusada Indah I/52 Surabaya

Penceramah : Ust. Abdul Aziz

Tema ceramah : Persiapan menjelang 10 hari terakhir Ramadhan
.

Informasi ini sekaligus undangan dan mohon untuk disampaikan ke teman-teman lainnya.


Don't miss it...

RADIATION EXPOSURE ISSUES IN CATHETERIZATION LABORATORY

Ika Krisnawati, Yudi Her Oktaviono

Selama lebih dari 50 tahun, laboratorium kateterisasi jantung telah berkembang pesat dari laboratorium penelitian menjadi laboratorium diagnostik dan terapi intervensi. Dengan berkembangnya teknologi serta ketrampilan operator, laboratorium kateterisasi juga mejadi laboratorium diagnostiK dan terapi sistim organ selain jantung dan pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan frekuensi penggunaan fluoroskopi. Selain itu juga terjadi peningkatan durasi paparan radiasi yang disebabkan oleh lamanya tindakan intervensi. Paparan radiasi untuk ventrikulografi dan angiografi koroner dibandingkan dengan foto thoraks adalah 300 kali, coronary stent adalah 1000 kali, intervensi arteri perifer adalah 1500 sampai 2500 kali dan ablasi adalah 900 – 1500 kali.

Sejak tahun 1992, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat menerima laporan kasus radiation-induced injury . Kasus ini berupa perlukaan kulit pasien yang telah dilakukan tindakan intervensi dengan bantuan fluoroskopi. Efek samping radiasi tidak hanya terjadi di organ kulit saja tetapi di organ lain bahkan dapat menyebabkan keganasan. Data di Amerika Serikat menyebutkan resiko timbulnya keganasan akibat radiasi berkisar 20 %.

Peningkatan kuantitas prosedur kardiologi invasif menyebabkan ahli jantung yang bergerak dibidang intervensi akan mengalami paparan radiasi 2 – 3 kali lebih besar dibandingkan radiologi. Untuk setiap kali tindakan invasif, paparan radiasi yang terjadi minimal sebanding dengan 250 foto thoraks. Hal ini menyebabkan peningkatan kerusakan DNA somatik yang dapat mengarah ke keganasan.

Prinsip dalam radiasi adalah ALARA, merupakan kepanjangan dari as low as reasonably achiveables. Dari prinsip tersebut ditegaskan bahwa setiap paparan radiasi walaupun rendah tidak dapat dapat dinyatakan aman,yang menyebabkan kewajiban tenaga medis untuk meminimalkan setiap efek samping paparan radiasi terhadap pasien, staf dan dirinya sendiri. Tenaga medis harus memilki keterampilan penggunaan akan serta pengetahuan untuk dapat mengenali situasi yang dapat meningkatkan efek samping radiasi.



Naskah selengkapnya disini

PERAN ENDOTHELIAL PROGENITOR CELL DALAM PROSES REENDOTELIALISASI PASCA PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION (PCI)

Infan Ketaren, Yudi Her Oktaviono

Kerusakan atau disfungsi sel endotel merupakan stimulus utama untuk terjadinya arterosklerosis yang akan menyebabkan terjadinya gangguan aliran darah seperti yang dapat menyebabkan infark miokard akut yang juga termasuk dalam daftar penyakit utama penyebab kematian di dunia.

Meskipun percutaneous coronary intervention (PCI) meningkatkan perfusi miokard dan perbaikan klinis pada pasien dengan penyakit jantung iskemi, penanganan terhadap arteri koroner ini mengakibatkan trauma mekanik, dimana penipisan endotel dan laserasi endovaskular oleh stent dan tekanan tinggi oleh inflasi balon merusak fungsi vaskular dan mengawali respon inflamasi lokal.

Reendotelialisasi sebagai suatu komponen penting dalam perbaikan homeostasis vaskular akan terjadi melalui migrasi dan proliferasi dari sel endotel ke daerah endotel yang mengalami kerusakan, dimana perhatian akhir-akhir ini terhadap mekanisme terbaru dari perbaikan vaskular melibatkan precursor dari sumsum tulang atau stem sel yaitu Endothelial Progenitor Cell (EPC). Dimana EPC ini dianggap mengalami mobilisasi sebagai respon terhadap cedera vaskular dan berada di tempat kerusakan endotel, serta dapat memfasilitasi reendotelialisasi.

Penemuan dari EPC ini membuka suatu lapangan baru dalam penelitian kardiovaskular yang dapat mengubah pengertian kita tentang mekanisme perbaikan vaskular serta menawarkan pendekatan menarik dan baru di dalam menangani penyakit kardiovaskular dan komplikasi yang berhubungan dengan strategi revaskularisasi yang modern.


Naskah selengkapnya disini

BIOTERORISME

Nupriyanto, Eddy Soewandojo Soewondo


Bioterorisme adalah penyebaran senjata biologis, yaitu virus, bakteri atau toksin, secara disengaja dengan tujuan membunuh, melukai atau melumpuhkan musuh. Pada kenyataannya bioterorisme tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan dan tanaman.

Penggunaan bibit penyakit sebagai senjata biologis telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Pada abad ke-14 pasukan Tartar melontarkan mayat korban penyakit pes ke benteng musuh. Tahun 1763 Inggris menggunakan selimut yang telah terkontaminasi cacar untuk menginfeksi penduduk Indian. Saat Perang Dunia I kuman antraks dan glander digunakan Jerman untuk menyerang hewan ternak Sekutu. Pada Perang Dunia II Jepang mengembangkan program pembuatan senjata biologi di China yang meneliti berbagai agen biologi yang berpotensi sebagai senjata. Serangan bioterorisme pertama di Amerika Serikat terjadi pada tahun 1983 saat pengikut Rajneeshee menggunakan bakteri Salmonella yang kemudian menginfeksi 751 orang di Oregon. Pada 1993 kelompok Aum Shinrikyo menyebarkan antraks di Tokyo, tidak ada korban meninggal. Serangan bioterorisme yang terakhir adalah kiriman amplop yang mengandung spora antraks lewat pos pada tahun 2001, akibatnya sebanyak 22 orang dilaporkan terinfeksi dan 5 diantaranya meninggal.

Protokol Genewa pada tahun 1925 telah melarang penggunaan senjata biologis tetapi penelitian dan pembuatannya setelah itu tidak berkurang. Pada tahun 1972 sebanyak 140 negara menandatangani Konvensi Senjata Biologis yang melarang penelitian, pembuatan dan penyimpanan senjata biologis, karena dapat membunuh jutaan manusia dan menghancurkan sektor ekonomi dan sosial. Meskipun demikian, diperkirakan masih ada 17 negara masih membuatnya. Beberapa peristiwa serangan bioterorisme oleh kelompok teroris dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa bioterorisme masih merupakan ancaman semua negara sehingga harus dilakukan persiapan untuk mencegahnya.

Penyakit infeksi yang diakibatkan bioterorisme dapat menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang besar, kepanikan masal dan kekacauan sosial. Serangan bioterorisme juga menyebabkan kerugian materi yang besar, akibat lumpuhnya ekonomi karena kepanikan masyarakat, biaya vaksin atau obat-obatan profilaksis yang harus diberikan dan proses dekontaminasi yang harus dilakukan.

Serangan bioterorisme mungkin tidak disadari sampai timbul korban dalam jumlah besar. Hal ini disebabkan karena penyebarannya yang dilakukan secara diam-diam, adanya tenggang waktu antara paparan dengan munculnya gejala penyakit, dan sebagian besar dokter/paramedis tidak pernah menjumpai kasus penyakit antraks, pes, cacar dan penyakit lain akibat serangan bioterorisme serta adanya kesulitan dalam pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa.

Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas tentang macam-macam bioterorisme, bagaimana mengenalinya, penanganan serta langkah-langkah pencegahannya yang dapat dilakukan.


Naskah selengkapnya disini

Media Edukasi dan Silaturahmi Alumni & PPDS Kardiologi Unair

Non Scholae Sad Vitae

Google
WWW Blog ini